Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2012

Tafsir Surah Al-Baqarah 35-39

Kajian Tafsir Ibnu Katsir, Mei 2012
Pemateri : K.H. Aep Saefudin SAG
 Al-Baqarah  ayat 35-36 :
وقلنا يآدم اسكن  أنت وزوجك الجنة وكلا منها زغدا حيث شئتماۖ ولاتقربا هذه الشجرة فتكون من الظلمين. فأزلهم الشيطن عنها فأخرجهما مما كان فيه ۖ وقلناالهبطوا بعضكم لبعض عدوۚ ولكم فى الارض مستقر ومتاع الى حين.
"Dan Kami berfirman “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian sukai, tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”"


Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman memberitakan kehormatan yang dianugerahkan-Nya kepada Adam, sesudah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya, lalu mereka sujud kepadanya kecuali iblis. Bahwa Dia memperbolehkan baginya surga untuk tempat tinggalnya dimanapun yang dikehendakinya. Adam boleh memakan makanan yang dia sukai dengan leluasa, yakni dengan senang hati, berlimpah, dan penuh dengan kenikmatan.
Al-Hafidz Abu Bakar Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari hadits Muhammad Ibnu Isa Ad-Damigani, telah menceritakan kepada kami Salamah Ibnu Fadl, dari Mikail, dari Lais, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Dzar yang menceritakan hadits berikut :
قلت يارسول الله ارايت ادم انبيا كان؟ قال نعم نبيا رسولا يكلمه الله قبيلا -يعني عيانا- فقال اسكن انت وزوجك الجنة.
 Aku bertanya, “Bagaimanakah menurutmu Adam, apakah ia seorang nabi? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Ya, dia seorang nabi lagi rasul, Allah berbicara dengannya secara terang-terangan, dan Allah berfirman, “Diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini.”

Surga yang ditempati oleh Adam ini masih diperselisihkan, apakah surga yang di langit atau surga yang di bumi? Kebanyakan ulama berpendapat yang pertama, yakni surga yang di langit. Al-Qurtubi meriwayatkan dari golongan mu’tazilah dan Qadariyah suatu pendapat yang mengatakan bahwa surga tersebut ada di bumi. Mengenai pembahasan ini secara rinci, insya Allah akan dikemukakan dalam tafsir surat Al-A’raf.
Konteks ayat menunjukkan bahwa Siti Hawa diciptakan sebelum Adam memasuki Surga, hal ini telah dijelaskan oleh Muhammad Ibnu Ishaq dalam keterangannya : Ketika Allah telah selesai dari urusan mencaci iblis, lalu Allah kembali kepada Adam yang telah Dia ajari semua nama-nama itu. Setelah itu ditimpakan rasa kantuk kepada Adam, kemudian Allah mengambil salah satu tulang iga sebelah kirinya dan menambal tempatnya dengan daging. Lalu Allah menjadikan tulang iganya itu istrinya, yaitu Siti Hawa, berupa seorang wanita yang sempurna agar Adam merasa tenang hidup dengannya. Ketika Adam terbangun, ia melihat Siti Hawa telah berada di sampingnya. Setelah Allah menikahkannya dan menjadikan rasa tenang dan tentram dalam diri Adam, maka Allah berfirman secara langsung kepadanya:
يآدم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلامنها زغدا حيث شئتماۖ ولاتقرباهذه الشجرة فتكون من الظلمين.
"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Baqarah : 35)

Menurut pendapat lain, penciptaan Siti Hawa terjadi sesudah Adam masuk surga, seperti yang dikatakan As-Saddi dalam salah satu riwayat yang diketengahkannya dari Abu Malik dan dari Abu Shaleh, dari Ibnu ‘Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari sejumlah sahabat. Setelah Iblis diusir dari surga dan Adam ditempatkan di dalam surga, maka Adam berjalan di dalam surga dengan perasaan kesepian karena tiada teman hidup yang membuat dia merasa tenang dan tentram dengannya. Kemudian Adam tidur sejenak. Ketika terbangun, ternyata di dekatnya terdapat seorang wanita yang sedang duduk. Allahlah yang telah menciptakannya dari tulang iga Adam. Lalu Adam bertanya, “Siapakah kamu?” Hawa menjawab, “Seorang wanita.” Adam bertanya, “Mengapa engkau diciptakan?” Hawa menjawab, “Agar kamu merasa tenang dan tentram bersamaku.” Para malaikat bertanya kepada Adam seraya menguji pengetahuan yang dicapai oleh Adam, “Siapakah namanya, hai Adam?” Adam menjawab, “Dia bernama Hawa.” Mereka bertanya lagi, “Mengapa dinamakan Hawa?” Adam menjawab, “Sesungguhnya ia dijadikan dari sesuatu yang hidup.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
يآدم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلامنها زغدا حيث شئتماۖ
"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian sukai." (QS. Al-Baqarah : 35)

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
ولاتقرباهذه الشجرة
"Dan janganlah kamu berdua dekati pohon ini." (QS. Al-Baqarah : 35)
Hal ini merupakan pilihin dari Allah dan sengaja dijadikan-Nya sebagai ujian buat Adam. Para ulama berbeda pendapat mengenai pohon ini, ada yang mengatakan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon anggur. Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah pohon gandum, ada juga yang mengatakan pohon kurma dan ada yang mengatakan pohon tin. Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ Ibnu Anas, dari Abul ‘Aliyah, bahwa pohon tersebut bila dimakan oleh seseorang, maka orang yang bersangkutan akan mengalami hadats, sedangkan hadats tidak layak di dalam surga.
Abdul Razzaq mengatakan telah menceritakan kepada kami Umar Ibnu Adur Rahman Ibnu Mihran yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Wahab Ibnu Munabbih berkata, “Setelah Allah menempatkan Adam dan istrinya di dalam surga, lalu Dia melarangnya memakan buah tersebut. Buah tersebut berasal dari suatu pohon yang ranting-rantingnya lebat sekali sehingga sebagian darinya bersatu dengan yang lain. Buah tersebut dimakan oleh para malaikat karena mereka ditakdirkan kekal. Pohon inilah yang dilarang Allah dimakan oleh Adam dan istrinya.”
Berbagai pendapat di atas merupakan tafsir dari pohon tersebut. Imam Al-Allamah Abu Ja’far Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang benar dalam hal ini ialah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah melarang Adam dan istrinya untuk memakan buah dari suatu pohon di dalam surga, tetapi bukan seluruh pohon surga, dan ternyata Adam dan istrinya memakan buah yang terlarang baginya itu. Kami tidak mengetahui jenis pohon apa yang terlarang bagi Adam itu secara spesifik, karena Allah tidak memberikan satu dalilpun bagi hamba-hamba-Nya yang menunjukkan hal tersebut, baik di dalam Al-Qur’an maupun di dalm sunnah yang shahih. Ada yang mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon gandum, pendapat yang lain mengatakan pohon anggur, dan pendapat yang lainnya lagi mengatakan pohon tin. Memang, mungkin saja salah satu diantaranya ada yang benar, tetapi hal ini merupakan suatu ilmu yang tidak membawa manfaat bagi orang yang mengetahuinya, dan jika tidak mengetahuinya tidak membawa mudarat.” Hal yang sama dikuatkan pula olah Ar-Razi di dalam kitab tafsirnya dan kitab-kitab lainnya, yakni pendapat yang memisterikan nama pohon yang terlarang tersebut, dan inilah pendapat yang benar.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فأزلهم الشيطن عنها.

"Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu." (QS. Al-Baqarah : 36)

Dapat diinterpretasikan bahwa dlamir yang terdapat di dalam firman-Nya, “Anhaa,” kembali ke surga. Atas dasr i’rab ini berarti makna ayat ialah lalu keduanya dijauhkan oleh setan dari surga, demikianlah menurut bacaan Atsim (yakni Fa-azallahumaa). Dapat pula diartikan bahwa dlamir tersebut kembali kepada madzkur yang paling dekat dengannya, yaitu asy-syajarah. Dengan demikian berarti makna ayat seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah ialah “maka setan menggelincirkan keduanya disebabkan pohon tersebut.” Pengertiannya sama dengan makna firman-Nya :

يؤفك عنه من أفكۗ.
"Dipalingkan darinya (rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan." (QS. Adz-Dzariyaat : 39)
Karena itu dalam ayat selanjutnya Allah berfirman :
فأخرجهما مما كان فيه ۖ .
"Dan dikeluarkan dari keadaan semula," (QS. Al-Baqarah : 36)
Yakni semua kenikmatan, seperti pakaian, tempat tinggal yang luas, rezeki yang berlimpah, dan kehidupan yang enak.
وقلناالهبطوا بعضكم لبعض عدوۚ ولكم فى الارض مستقر ومتاع الى حين.
Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah : 36)
Yakni tempat tinggal, rezeki, dan ajal. Yang dimaksud dengan ilaahiin ialah waktu yang terbatas dan yang telah ditentukan, kemudian terjadilah kiamat.

Al-Baqarah  ayat 37 :
فتلقى آدم من ربه كلمت فتاب عليهۗ انه هو التواب الرحيم.
"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Menurut suatu pendapat, ayat ini merupakan tafsir dan penjelasan dari ayat lainnya, yaitu firman-Nya :
قلا ربنا ظلمنا انفسنا وان لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن من الخسرين.
Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kemi termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf : 23)
Hal ini diriwayatkan pleh Mujahid, Sa’id Ibnu Jubair, Abul Aliyah, Ar-Rabi’ Ibnu Anas, Al-Hasan, Qatadah, Muhammad Ibnu Ka’b Al-Qurazi, Khalid Ibnu Ma’dan, Ata Al-Khurasani, dan Abdur Rahman Ibnu Zaid Ibnu Aslam.
Ibnu Abu Hatim dalam bab ini telah meriwayatkan sebuah hadits, beliau berkata, telah menceritakan kepada kami Ali Ibnul Husain Ibnu Isykab, telah menceritakan kepada kami Ali Ibnu Ashim, dari Sa’id Ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ubay Ibnu Ka’b, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda :
“Adam ‘Alaihis Salam berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika aku bertobat dan kembali?Apakah Engkau akan mengembalikan diriku ke surga? Allah menjawab, “Ya.” Ang demikian  itu makna firman-Nya, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya.”
Hadits ini berpredikat gharib ditinjau dari sanad ini, di dalamnya terdapat inqita’.
Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ Ibnu Anas, dari Abul Aliyah, sehubungan dengan firman-Nya :
فتلقى آدم من ربه كلمت فتاب عليهۗ
"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya." (QS. Al-Baqarah : 37)
Disebutkan bahwa sesungguhnya setelah melakukan kesalahan, Adam berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika aku bertobat dan memperbaiki diriku?” Allah berfirman,  “Kalau begitu Aku akan memasukkan kamu ke surga.” Hal inilah yang dimaksud dengan pengertian ‘beberapa kalimat’. Termasuk ke dalam pengertian ‘beberapa kalimat’ ialah perkataan Adam yang disitir oleh firman-Nya :
ربنا ظلمنا انفسنا وان لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن من الخسرين.
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kemi termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf : 23)
Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid yang mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan ‘beberapa kalimat’ ialah seperti berikut :
اللهم لااله الا انت سبحنك وبحمدك، رب اني ظلمت نفسي فاغغفرلي انك خيرالغافرين. اللهم لااله الا انت سبحنك وبحمدك، رب اني ظلمت نفسي فارحمني انك خيرالراحمين. اللهم لااله الا انت سبحنك وبحمدك، رب اني ظلمت نفسي فتب علي انك انت التواب الرحيم.
“Ya Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau, maha suci Engkau dengan memuji kepada-Mu. Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka berilah ampun bagi diriku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi ampunan. Ya Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau, maha suci Engkau dengan memuji kepada-Mu. Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka rahmatilah diriku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi rahmat. Ya Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau, maha suci Engkau dengan memuji kepada-Mu. Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :
انه هو التواب الرحيم.
"Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah : 37)
Yakni sesungguhnya Dia menerima tobat orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Makna ayat  ini sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya :
“Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya.” (QS. At-Taubah : 104)
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa : 110)
“Dan orang yan bertobat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan : 71)
Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengampuni semua dosa dan menerima tobat orang yang bertobat. Demikianlah sebagian dari kelembutan Allah kepada makhluk-Nya dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Al-Baqarah  ayat 38-39 :
قلناالهبطوا منها جميعاۚ فاما يأتينكم مني هدى فمن تبع هداي فلا خوف عليهم ولاهم يحزنون. والذين كفروا وكذبو بايتنآ اولئك اصحب النارۚ هم فيها خالدون.
"Kami berfirman, “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."


Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan tentang peringatan yang ditunjukan kepada Adam dan istrinya serta iblis, ketika mereka diturunkan dari surga. Yang dimaksud ialah anak cucunya, bahwa Allah kelak akan menurunkan kitab-kitab dan mengutus nabi-nabi serta rasul-rasul (di kalangan mereka yang akan memberi peringatan kepada kaumnya masing-masing). Demikianlah penafsiran menurut Abul Aliyah, dia mengatakan behwa petunjuk tersebut yang dimaksud adalah para nabi dan para rasul, serta penjelasan-penjelasan dan keterangan-Nya (melalui ayat-ayat-Nya).

---masih dalam proses penulisan---

Semoga bermanfaat

Minggu, 08 April 2012

Tafsir Q.S. Al-Baqarah 34

Kajian Tafsir Ibnu Katsir, 3 April 2012
Pemateri : K.H. Aep Saefudin SAG
 Al-Baqarah  ayat 34 :
وإذ قلنا للملئكة السجدوا لادم فسجدو الآإبليس ۗ ابى واستكبروكان من الكفرين.
"Dan(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabbur, dan adalah dia termasuk golongan yang kafir."
Hal ini merupakan penghormatan yang besar dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala untuk Adam dan dapat dilimpahkan kepada keturunannya, yaitu ketika Allah memberitahukan bahwa Dia telah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud menghormati Adam. Kenyataan ini diperkuat pula oleh banyak hadits yang menunjukkan bahwa hal tersebut benar-benar terjadi, antara lain ialah hadits mengenai syafaat yang telah disebutkan sebelumnya dan yang mengisahkan Nabi Musa ‘alaihis salam yaitu :
ربي ارني أدم الذين اخرجنا ونفسه من الجنة، فلما اجتمع به قال أنت أدم الذي خلقه الله بيده ونفخ فيه من روحه وأسجد له ملائكته.
 “Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku Adam yang telah mengeluarkan diri kami dan dirinya sendiri dari surga. Ketika Musa telah bersua dengannya, Musa berkata : “Engkaukah Adam yang telah diciptakan Allah dengan tangan (kekuasaan)-Nya dan dia meniupkan sebagian dari roh (ciptaan)-Nya kepadamu dan memerintahkan kepada para malaikat-Nya untuk bersujud kepadamu?”
Hadits tersebut secara lengkap akan diungkapkan kemudian, insya Allah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Utsman Ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Bisyr Ibnu Imarah, dari Abu Rauq, dari Ad-Dahak, dari Ibnu Abbas yang menceritakan hal berikut :
Pada awalnya iblis itu merupakan suatu golongan dari para malaikat, mereka dikenal dengan sebutan jin. Iblis diciptakan dari api yang sangat panas, yakni jin yang berada diantara para malaikat, nama aslinya adalah Al-Harits, pada mulanya ia ditugaskan sebagai salah satu penjaga surga. Tetapi pra malaikat diciptakan dari nur yang berbeda dengan golongan iblis tadi.
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa jin yang disebut di dalam Al-Qur’an diciptakan dari nyala api, yakni dari lidah api yang paling ujungnya bila menyala. Sedangkan manusia diciptakan dari tanah liat. Makhluk yang mula-mula menghuni bumi adalah jin, lalu mereka membuat kerusakan, menumpahkan darah, dan sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain. Maka Allah mengirimkan kepada mereka Iblis bersama sejumlah pasukan dari Malaikat. Mereka yang diutus melakukan tugas ini dari kalangan makhluk yang dikenal dengan nama jin. Iblis bersama para pengikutnya dapat menumpas makhluk jin hingga mengejar mereka sampai ke pulau-pulau di berbagai lautan dan ke puncak-puncak bukit.
Setelah iblis dapat melakukan tugas tersebut, akhirnya dia merasa tinggi diri, dan mengatakan, “Aku telah melakukan sesuatu hal yang belum pernah dilakukan oleh siapapun.” Allah mengetahui hal itu yang tersimpan di balik hati iblis, sedangkan para malaikat yang bersamanya tidak mengetahui hal itu. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya yang pernah diutus-Nya bersama iblis, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi itu.” Maka para malaikat menjwabnya, “Mengapa engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, seperti kerusakan yang telah dilakukan oleh makhluk jin dan banyaknya darah mengalir karena perbuatan mereka? Padahal sesungguhnya kami diutus untuk menumpas mereka.”
Kemudian Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui,” yakni ‘Aku mengetahui apa yang tersimpan di balik hati iblis hal-hal yang tidak kalian ketahui, yaitu sifat takabbur dan tinggi diri.’
Lalu Allah menciptakan Adam dari tanah liat, yakni tanah liat yang baik, berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan berbau tidak enak. Sesungguhnya pada mulanya dari tanah, kemudian menjadi tanah liat yang diberi bentuk. Allah menciptakan Adam dari tanah liat itu dengan tangan kekuasaan-Nya sendiri. Kemudian Allah meniupkan sebagian ruh ciptaan-Nya.
Kemudian Allah berfirman kepada para malaikat yang bersama iblis tadi, “Sujudlah kalian kepada Adam!” Maka mereka semuanya sujud, kecuali iblis, ia membangkang dan takabur karena di dalam dirinya telah muncul sifat takabur dan tinggi diri. Iblis berkata, “Aku tidak mau sujud karena aku lebih baik daripada dia dan lebih tua serta asalku lebih kuat. Engkau telah menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. Sesungguhnya api lebih kuat daripada tanah.” Setelah iblis menolak sujud kepada Adam, maka Allah menjauhkannya dari seluruh kebaikan dan menjadikannya setan yang terkutuk sebagai hukuman atas kedurhakaannya.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya :
وإذ قلنا للملئكة السجدوا لادم
Dan(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kalian kepada Adam,” (Q.S. AL-Baqarah : 34)
Karena taat kepada Allah, maka dilakukan sujud kepada Adam. Allah memuliakan Adam dengan memerintahkan para malaikat-Nya bersujud kepadanya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa sujud ini merupakan penghormatan dan salam serta memuliakan, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
ورفع ابويه على العرش وخرو له سجدا وقال يآأبت هذا تأويل رءياي من قبل قد جعلها ربي حقا.
Dan ia menikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusu. Dan Yusuf berkata, “Wahai ayahku, inilah ta’wil mimpiku yang dahulu itu, sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan” (Q.S. Yusuf : 100)
Di masa lalu hal ini memang diperbolehkan di kalangan umat-umat terdahulu, tetapi dalam agama kita hal ini telah di-mansukh.
Mu’adz mengemukakan hadits berikut :
قدمت الشام فرأيتهم يسجدون لأساقفتهم وعلمائهم، فأنت يارسول الله احق أن يسجد لك، فقال لالوكنت أمرا بشرا أن يسجد لبشر لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها من عظم حقه عليها.
Ketika aku (Mu’adz) tiba di negeri Syam, kulihat mereka sujud kepada uskup-uskup dan ulama-ulamanya. Maka engkau, wahai Rasulullah, adalah orang yang lebih berhak untuk disujudi. Lalu Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak, seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan kepada wanita untuk sujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami atas dirinya.”
Jadi, syariat Islam melarang seseorang sujud kepada orang lain, bahkan ruku’ pun tidak boleh. Hanya kepada Allah-lah manusia ruku’ dan bersujud.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya :
فسجدوآ الآإبليس ۗ ابى واستكبروكان من الكفرين.
"maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabbur, dan adalah dia termasuk golongan yang kafir." (Q.S. Al-Baqarah : 34)
Iblis dengki terhadap Adam ‘alaihis salam karena kehormatan yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Adam, dan ia berkata, “Aku berasal dari api, sedangkan dia dari tanah.” Hal tersebut merupakan dosa besar, yaitu takabur.
Di dalam sebuah hadits shahih telah disebutkan :
لايدخل الجنة من كان في قلبه مثقال حبة من خردل من كبر.
“Tidak dapat masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sifat takabur sekalipun hanya seberat biji sawi.”
Di dalam hati iblis terdapat sifat takabur, kekufuran dan keingkaran yang mengakibatkan dirinya terusir dan dijauhkan dari rahmat Allah dan dari sisi-Nya. Sebagian ahli i’rab mengartikan firman-Nya, “wakaana minal kaafiriin,” maksudnya ‘jadilah ia (iblis) termasuk golongan orang-orang yang kafir, karena menolak untuk bersujud’. Jadi kafirnya iblis bukanlah karena tidak percaya dengan Allah dan segala ciptaannya, bahkan iblis sangat percaya karena menyaksikan langsung, namun iblis kair karena menolak perintah Allah untuk sujud menghormati Adam.

Tanya Jawab :
1.      T?
J:
 
 
---masih dalam proses penulisan---
Dirangkum oleh :
Sholihin untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat

Kamis, 05 April 2012

Tafsir Q.S. Al-Baqarah 31-33

Kajian Tafsir Ibnu Katsir, 20 Maret 2012
Pemateri : K.H. Aep Saefudin SAG
 Al-Baqarah  ayat 31-33 :
وعلم أدم الاسمآء كلها ثم عرضهم على الملئكة فقال أنبئوني بأسماء هؤلآء إنكنتم صدقين. قالوا سبحنك لاعلم لنا الا ما علمتنا ۗ انك انت العليم الحكيم. قال يأدم أنبئهم بأسماءهم فلما أنبأهم بأسماءهم قال ألم أقل لكم إني أعلم غيب السموت والارض وأعلم ما تبدون وما كنتم تكتمون.
"Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
[35]  Sebenarnya terjemahan Hakim dengan Maha Bijaksana kurang tepat, Karena arti Hakim ialah: yang mempunyai hikmah. hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. di sini diartikan dengan Maha Bijaksana Karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti Hakim.

Hal ini merupakan ungkapan yang dikemukakan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, didalamnya terkandung keutamaan Adam atas para malaikat berkat apa yang telah dikhususkan Allah baginya berupa ilmu tentang nama-nama segala sesuatu, sedangkan para malaikat tidak mengetahuinya. Hal ini terjadi sesudah para malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada Adam.
Sesungguhnya bagian ini didahulukan atas bagian yang mengandung perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam karena bagian ini mempunyai kaitan erat dengan ketidak tahuan para malaikat tentang hikmah penciptaan khalifah, yaitu di saat mereka menanyakan hal tersebut. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjelaskan bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Karena itulah Allah menyebutkan bagian ini sesudah hal tersebut, untuk menjelaskan kepada mereka keutamaan Adam, berkat kelebihan yang dimilikinya di atas mereka berupa ilmu pengetahuan tentang nama-nama segala sesuatu. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman : “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” (Q.S. Al-Baqarah : 31)
Menurut pendapat yang shahih, Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu, yakni semua zat, sifat dan karakternya dalam bentuk mukabbar dan mushaghghar. Karena itu Imam Bukhari dalam tafsir ayat ini pada Kitabut Tafsir, bagian dari kitab shahih-nya, mengatakan : Telah menceritakan kepada kami Muslim Ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Qatadah, dari Anas Ibnu Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda. Khalifah telah mengatakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Yazid Ibnu Zurai’, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, dari Anas, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah bersabda :
“Orang-orang mukmin berkumpul di hari kiamat, lalu mereka mengatakan, ”Seandainya kita meminta syafa’at kepada Tuhan kita.” Maka mereka datang kepada Adam, lalu berkata, ”Engkau adalah bapak umat manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaan-Nya dan Dia telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya agar bersujud kepadamu serta Dia telah mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu, maka mintakanlah syafa’at buat kami kepada Tuhanmu, agar Dia membebaskan kami dari tempat kami sekarang ini.” Adam menjawab, “Aku bukanlah orang yang dapat menolong kalian.” Lalu ia menyebutkan kesalahannya yang membuatnya merasa malu. (Dia berkata), “Datanglah kalian kepada Nuh, karena sesungguhnya dia adalah rasul pertama yang diutus oleh Allah buat penduduk bumi.” Lalu mereka datang kepadanya, tetapi Nuh menjawab, “Aku bukanlah orang yang dapat menolong kalian,” lalu ia menyebutkan permintaan yang pernah dia ajukan kepada Tuhannya tentang sesuatu yang tidak dia ketahui, hingga ia merasa malu. Ia berkata, “Datanglah kalian kepada kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah (Nabi Ibrahim).” Lalu mereka mendatanginya, tetapi ia berkata, “Aku bukanlah orang yang dapat menolong kalian,” dan Nabi Ibrahim berkata, “Datangilah oleh kalian Musa, seorang hamba yang pernah diajak bicara oleh Allah dan diberinya kitab Taurat.” Lalu mereka datang kepada Musa, tetapi Musa menjawab, “Aku bukanlah orang yang dapat menolong kalian,” kemudian Musa menyebutkan pembunuhan yang pernah dilakukannya terhadap seseorang bukan karena orang itu telah membunuh orang lain, hingga ia merasa malu kepada Tuhannya. Lalu ia berkata, “Datanglah kalian kepada Isa, hamba Allah dan Rasul-Nya yang diciptakan melalui kalimat Allah dan roh (ciptaan)-Nya.” Kemudian mereka datang kepada Isa, tetapi Isa menjawab, “Aku bukanlah orang yang dapat menolong kalian, datanglah kalian kepada Muhammad, seorang hamba yang telah diampuni baginya semua dosanya yang lalu dan yang kemudian.” Lalu mereka datang kepadaku, maka aku berangkat dan meminta izin kepada Tuhanku hingga Dia mengizinkan diriku. Ketika aku melihat Tuhanku, maka aku menyungkur bersujud dan Dia membiarkan diriku dalam keadaan demikian selama yang Dia kehendaki. Lalu Dia berfirman, “Angkatlah kepalamu, dan mintalah,  niscaya kamu diberi apa yang kamu minta, dan katakanlah, niscaya didengar, dan mintalah syafa’at, niscaya kamu diberi izin untuk memberi syafa’at.” Lalu aku mengangkat kepalaku dan aku memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku. Kemudian aku memohon syafa’at, dan Dia menentukan suatu batasan kepadaku, lalu aku masukkan mereka ke dalam surga. Kemudian aku kembali kepada-Nya, dan ketika aku melihat Tuhanku, maka aku melakukan hal yang serupa, lalu aku memohon syafa’at dan Dia menentukan batasan (jumlah) tertentu, maka aku masukkan mereka ke dalam surga. Kemudian aku kembali lagi untuk yang ketiga kalinya dan kembali lagi untuk yang keempat kalinya, hingga aku katakan, “Tiada yang tertinggal di dalam neraka kecuali orang-orang yang mengabaikan Al-Qur’an  dan dipastikan baginya kekal di dalam neraka.”

Demikian menurut hadits yang diketengahkan oleh Imam Bukhari dalam bab ini. Hadits yang sama telah diketengahkan pula oleh Imam Muslim dan Imam Nasa’i melalui hadits Hisyam (yakni Ibnu Abu Abdullah Ad-Dustuwa’i), dari Qatadah dengan lafadz yang sama. Imam Muslim, Imam Nasa’i, dan Ibnu Majah tengah mengetengahkan pula hadits ini melalui hadits Sa’id (yakni Ibnu Abu Arubah), dari Qatadah.
Kaitan pengetengahan hadits ini dan tujuan utamanya ialah menyimpulkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengatakan : “Lalu mereka mendatangi Adam dan berkata, ”Engkau adalah bapak umat manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaan-Nya dan Dia telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya agar bersujud kepadamu serta Dia telah mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu,”
Hadits ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan kepada Adam nama-nama semua makhluk.
Namun demikian bagian akhir dari hadits tersebut patut kita renungkan, bahwa orang-orang yang mengabaikan Al-Qur’an akan ditahan oleh Al-Qur’an sehingga kekal di dalam neraka. Orang-orang yang mengabaikan Al-Qur’an diantaranya adalah orang Islam yang tidak bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak mau belajar, bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak membacanya dan tidak belajar memahaminya, telah memahami Al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya dan tidak menjadikannya sebagai pedoman hidup. Mudah-mudahan kegiatan pengajian kita mengkaji tafsir Al-Qur’an setiap malam Rabu dapat menjadikan kita sehingga tidak termasuk golongan orang-orang yang mengabaikan Al-Qur’an yang kelak akan ditahan oleh Al-Qur’an sehingga kekal di dalam neraka.

Tanya Jawab :
1.      T?
J :

 ---masih dalam proses penulisan---

Dirangkum oleh :
Sholihin untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat

Kamis, 15 Maret 2012

Tafsir Q.S. Al-Baqarah 30

Kajian Tafsir Ibnu Katsir, 13 Maret 2012
Pemateri : K.H. Aep Saefudin SAG
 Al-Baqarah  ayat 30 :
وإذ قال ربك للملئكة اني جاعل فى الارض خليفة ۗ قالوأتجعل فيهامن يفسد فيهاويسفك الدمآء ۚ ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك ۗ قال اني أعلم ما لاتعلمون.۝
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”"

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan perihal anugerah-Nya kepada bani Adam, yaitu sebagai makhluk yang mulia. Mereka disebutkan di kalangan makhluk yang tertinggi –yaitu para malaikat- seselum mereka diciptakan. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :
وإذ قال ربك للملئكة
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat," (Q.S. Al-Baqarah : 30)
Makna yang dimaksud ialah "Hai Muhammad, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, dan ceritakanlah hal ini kepada kaummu"
اني جاعل فى الارض خليفة ۗ
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (Q.S. Al-Baqarah : 30)
Yakni suatu kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain silih berganti, abad demi abad, dan generasi demi generasi, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya :
وهو الذي جعلكم خلئف الارض
“Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi.” (Q.S. Al-An’am : 165)
ويجعلكم خلفآء الارض
“dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah-khalifah di bumi.” (Q.S. An-Naml : 62)
فخلف من بعدهم خلف
“Maka datanglah sesudah mereka generasi yang lain.” (Al-A’raf : 169)
Menurut qira’ah yang syaz dibaca innii jaa’ilun fil ardli khaliifah (Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah-khalifah di muka bumi). Demikian diriwayatkan oleh Zamakhsyari dan lain-lainnya.
Al-Qurtubi menukil dari Zaid Ibnu Ali, yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini bukan hanya Nabi Adam ‘alaihis salam saja seperti yang dikatakan oleh sejumlah ahli tafsir. Al-Qurtubi menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan semua ahli takwil. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Al-Qurtubi ini masih perlu dipertimbangkan. Bahkan perselisihan dalam masalah ini masih banyak, menurut riwayat Ar-Razi dalam kitab tafsirnya, juga oleh yang lainnya.

أتجعل فيهامن يفسد فيهاويسفك الدمآء
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ? " (Q.S. Al-Baqarah : 30)
Ucapan para malaikat ini bukan dimaksudkan menentang atau memprotes Allah, bukan pula karena dorongan dengki terhadap manusia, sebagaimana yang diduga oleh sebagian ulama tafsir. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati para malaikat, mereka tidak pernah mendahului firman Allah, yakni tidak pernah menanyakan sesuatu kepada-Nya yang tidak diizinkan bagi mereka mengemukakannya.
Dalam ayat ini, ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan di bumi suatu makhluk, menurut Qatadah, para malaikat telah mengetahui sebelumnya bahwa makhluk-makhluk tersebut gemar menimbulkan kerusakan padanya (di bumi), maka mereka mengatakan :
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ? " (Q.S. Al-Baqarah : 30)
Sesungguhnya kalimat itu merupakan pertanyaan meminta informasi dan pengetahuan tentang hikmah yang terkandung di dalam penciptaan itu. Mereka mengatakan, “Wahai Tuhan kami, apakah hikmah yang terkandung dalam penciptaan mereka, padahal diantara mereka ada orang-orang yang suka membuat kerusakan di muka bumi dan mengalirkan darah? Jikalau yang dimaksudkan agar Engkau disembah, maka kami selalu bertasbih memuji dan menyucikan Engkau,” yakni kami selalu beribadah kepad-Mu, sebagaimana yang akan disebutkan nanti. Dengan kata lain seakan-akan para malaikat mengatakan), “Kami tidak pernah melakukan sesuatupun dari hal itu (kerusakan dan mengalirkan darah), maka mengapa Engkau tidak cukup hanya dengan kami para malaikat saja?
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman menjawab pertanyaan tersebut :
اني أعلم ما لاتعلمون.
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." (Q.S. Al-Baqarah : 30)
Dengan kata lain, seakan-akan Allah bermaksud bahwa sesungguhnya Aku mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui menyangkut kemaslahatan yang jauh lebih kuat dalam penciptaan jenis makhluk ini daripada kerusakan-kerusakan yang kalian sebut itu. Karena sesungguhnya Aku akan menjadikan dari kalangan mereka nabi-nabi dan rasul-rasul, diantara mereka ada para shiddiqin, para syuhada, orang-orang saleh, ahli ibadah, ahli zuhud, para wali, orang-orang bertaqwa, para muqarrabin, para ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang khusyu’ dan orang-orang yang cinta kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan mengikuti jejak rasul-rasul-Nya.

Al-Qurtubi dan lain-lainnya menyimpulkan dalil ayat ini, wajib mengangkat seorang khalifah untuk memutuskan perkara yang diperselisihkan diantara manusia, memutuskan persengketaan mereka, menolong orang-orang yang teraniaya dari perlakuan sewenang-wenang orang-orang yang dzlim dari kalangan mereka, menegakkan hukuman-hukuman had, dan memperingatkan mereka dari perbuatan-perbuatan keji serta hal-hal lainnya yang penting dan tidak dapat ditegakkan kecuali dengan adanya seorang imam, mengingat suatu hal yang merupakan kesempurnaan bagi perkara yang wajib hukumnya wajib pula.
Pengangkatan imam dapat dilakukan melalui nash seperti yang dikatakan oleh golongan ahli sunnah sehubungan dengan pengangkata sahabat Abu Bakar Radliyallaahu ‘Anhu. Atau dengan penunjukan seperti yang dikatakan oleh golongan lain dari ahlus sunnah. Atau dengan pengangkatan oleh khalifah yang mendahuluinya, seperti yang telah dilakukan oleh sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap sahabat Umar Ibnu Khattab. Atau pengangkatannya diserahkan kepada permusyawaratan sejumlah orang-orang yang shaleh, seperti yang pernah dilakukan oleh khalifah Umar. Atau dengan kesepakatan ahlul hilli wal aqdi yang sepakat mem-bai’at-nya. - - -

Apakah wajib mempersaksikan pengangkatan imam? Hal ini masih diperselisihkan. Diantara ulama ada yang mengatakan tidak disyaratkan adanya kesaksian, sedangkan pendapat yang lainnya mengatakan kesaksian merupakan syarat pengangkatan. Hal ini cukup dilakukan dengan dua orang saksi. Al-Jiba’i mengatakan bahwa saksi harus dilakukan oleh empat orang selain dari orang yang mengangkat dan orang yang diangkatnya, seperti yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu. Dia menyerahkan pengangkatan khalifah kepada permusyawaratan diantara enam orang. Yang terpilih menjadi pengangkat ialah sahabat Abdur-Rahman bin Auf, yang diangkatnya ialah sahabat Utsman, sedangkan hukum wajib saksi empat orang disimpulkan dari empat orang sisanya. Akan tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan.
Seorang khalifah harus laki-laki, merdeka, baligh, berakal, muslim, adil, mujtahid, dapat melihat, semua anggota tubuhnya sehat, berpengalaman dalam masalah pertempuran dan siasat pertempuran, dan memiliki pendapat, dan dari kalangan Quraisy menurut pendapat yang shahih. Dalam hal ini tidak disyaratkan harus seorang Hasyimi, tidak pula orang yang ma’sum (terpelihara dari dosa dan kekeliruan), berbeda halnya dengan pendapat kaum militan dari golongan Rafidah.
Apabila saeorang imam berbuat fasik, apakah ia harus dipecat atau tidak? Masalah ini masih diperselisihkan. Tetapi menurut pendapat yang shahih, ia tidak dipecat karena berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan :
“Terkecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan (dilakukannya) terhadap Allah diantara kalian, sedangkan hal itu ada buktinya.” - - -

Tanya Jawab :
1.   Mengenai pemimpin-pemimpin di negara kita, setelah melihat realitas yang terjadi akhirnya timbul kekecewaan-kekecewaan sehingga saya bertekad bahwa mulai sekarang tidak akan mengikuti pemilihan lagi (tidak akan mencoblos). Bagaimana hukumnya sikap saya tersebut mengingat pernah dikeluarkan fatwa MUI tentang mencoblos itu wajib?
Jawab :
Dalam hal ini sudah umum terjadi bahwa golongan yang tidak ikut memilih atau golput jumlahnya terus meningkat dari pemilu ke pemilu berikutnya. Hal ini wajar dan terjadi karena adanya kekecewaan yang timbul karena sikap, perilaku, dan tabiat dari pejabat atau pemimpin yang terpilih dari hasil pemilu ternyata berkhianat, tidak memperhatikan kepentingan rakyat tetapi hanya sibuk dengan kepentingan pribadi, golongan, dan partainya saja. Korupsi merajalela, kesenjangan hidup semakin nyata. Mengenai MUI yang ada saat ini tidak selalu merepresentasikan kepentingan umat Islam, sehingga fatwa yang dikeluarkan pun dianggap tidak mengikat kepada umat Islam. Pada saat mengeluarkan fatwa tentang kewajiban mencoblos, patut dikritisi bahwa fatwa tersebut terkontaminasi dan ditunggangi oleh kepentingan golongan tertentu, misalnya kepentingan penguasa. Dengan demikian tidak mengapa jika kita tidak mengikutinya dengan berbagai pertimbangan yang lebih maslahat.

---masih dalam proses penulisan---

Dirangkum oleh :
Sholihin untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat

Rabu, 07 Maret 2012

Tafsir Q.S. Al-Baqarah 29

Kajian Tafsir Ibnu Katsir, 6 Maret 2012
Pemateri : K.H. Aep Saefudin SAG
 Al-Baqarah  ayat 29 :
هوالذي خلق لكم ما فى الارض جميعا ثم الستوى الى السمآء فسوهن سبع سموت ۗ وهو بكل شيئ عليم۝
"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian kemudian Dia berkehandak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bukti keberadaan dan kekuasaan-Nya kepada makhluk-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka, lalu Dia menyebutkan bukti lain melalui apa yang mereka saksikan, yaitu penciptaan langit dan bumi.
Istawaa ilas samaa (berkehendak atau bertujuan ke langit), makna lafadz ini mengandung pengertian kedua lafadz tersebut, yakni berkehendak atau bertujuan, karena ia di-muta’addi-kan dengan memakai huruf ilaa. Fasawwaahunna sab’a samaawaat (lalu Dia menciptakan tujuh langit), lafadz as-samaa dalam ayat ini merupakan isim jinis, karena itu disebutkan sab’a samaawaat. Wahuwa bikulli syai-in ‘aliim (Dia Maha Mengetahui segala sesuatu), yakni pengetahuan-Nya meliputi semua makhluk yang telah Dia ciptakan. Pengertiannya sama dengan ayat lain, yaitu firman-Nya :
الايعلم من خلق (الملك:١٤)
"Apakah ِAllah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian nampakkan dan yang kalian rahasiakan?)   .” (Q.S. Al-Mulk : 14)

Rincian makna Q.S. Al-Baqarah ayat 29 ini diterangkan di dalam surat haamiim sajdah yaitu melalui firman-Nya : 
Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kalian kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kalian adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia Berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa?”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Fushshilat : 9-12)
Di dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala memulai ciptaan-Nya dengan menciptakan bumi, kemudian menciptakan tujuh langit. Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian bawah, setelah itu baru bagian atasnya. Para ulama tafsir menjelaskan hal ini, keterangannya akan dikemukakan sesudah ini, insya Allah.

Adapun mengenai firman-Nya :
“Apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah Telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, Dan dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian.” (Q.S. An-Naazi’aat : 27-33)
Maka sesungguhnya huruf tsumma dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 29 ini hanya untuk menunjukkan makna ‘ataf khabar kepada khabar, bukan ‘ataf fi’il kepada fi’il yang lain.
Menurut suatu pendapat, ad-dahaa (penghamparan) bumi dilakukan sesudah penciptaan langit dan bumi. Demikianlah menurut riwayat Ali Ibnu Thalhah, dari Ibnu Abbas.
 
- - -

Tanya Jawab :
1. Tentang tujuh langit yang disebutkan dalam Al-Qur’an, ada yang berpendapat hal itu identik dengan 7 lapis atmosfir bumi, bagaimana halnya dengan yang dijelaskan ulama tafsir ?
Jawab :
Di dalam Al-Qur’an terdapat kalimat as-samaaud dun-ya artinya langit yang dekat (langit dunia) yang dihiasi dengan bulan, planet dan bintang-bintang. Boleh jadi penemuan para ilmuwan tentang adanya 7 lapis atmosfir adalah sesuai yang dimaksud Al-Qur’an tentang as-samaaud dun-ya. Namun dalam ayat yang kita bahas saat ini pengertian langit yang dimaksud adalah bagian dari alam semesta ciptaan Allah, lafadz as-samaa dalam ayat ini merupakan isim jinis, yang belum dapat dijangkau oleh manusia seperti apakah langit itu? Dalam ayat yang lain, tujuh langit itu disebutkan mempunyai pintu-pintu, tentu yang dimaksud bukan atmosfir bumi. Seperti apakah dan dimanakah pintu-pintu langit, Allahlah yang Maha Tahu. Dalam bahasa arab, lafadz as-samaa’ biasa dipakai untuk menunjukkan ”diatas”. Misalnya ”menengadahkan wajahnya ke langit” maksudnya menengadahkan wajahnya memandang ke atas”, juga ”berdoa sambil mengangkat tangannya ke langit” artinya berdoa sambil menadahkan tangan ke atas.
2. Hadits tentang penciptaan bumi di hari Sabtu, gunung-gunung pada hari Ahad, pepohonan pada hari senin, dan seterusnya, tadi disebutkan bahwa hadits ini gharib dan banyak ulama yang meragukan keshahihannya. Sedangkan di dalam kitab injil versi sekarang terdapat keterangan bahwa alam semesta diciptakan dalam 6 hari (bukan 6 masa seperti pendapat ulama) dan disebutkan hari-hari penciptaannya seperti hadits tersebut. Apakah mungkin hadits ini muncul karena pengaruh nasrani ?
Jawab :
Hadits banyak jumlahnya, ada ribuan. Dahulu Nabi melarang menuliskannya karena dikhawatirkan bercampur dengan Al-Qur’an. Kemudian setelah Nabi wafat para ulama memandang perlu untuk menuliskannya karena alasan kekhawatirannya bercampur dengan Al-Qur’an sudah tidak ada lagi. Dalam proses penulisannya ada yang betul-betul shahih, diriwayatkan secara mutawatir oleh banyak sumber terpercaya sehingga terbukti bahwa hal tersebut berasal dari Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. Namun banyak juga hadits yang lemah, yang hanya dari satu sumber, atau perawi-nya kurang baik daya ingatnya, perawi-nya diketahui berdusta, kurang dipercaya dan lain-lain. Bahkan banyak juga hadits yang bukan hadits, artinya hadits palsu, yang sengaja dibuat-buat untuk menghancurkan Islam. Ada juga pengaruh dari kisah-kisah israiliyat yang kemudian dikatakan bahwa itu hadits padahal bukan. Di dalam Tafsir Ibnu Katsir ini, hadits yang tadi ditanyakan diberi predikat gharib, hanya diriwayatkan oleh seorang perawi. Banyak komentar tentang hadits ini, antara lain dari Ali Ibnul Madini dan Imam Bukhari serta dari banyak ulama ahli hadits lainnya. Mereka menganggap hadits ini perkataan Ka’b, dan sesungguhnya Abu Hurairah hanya mendengar dari perkataan Ka’b Al-Ahbar. Hadits ini menjadi samar di kalangan sebagian para perawi sehingga mereka menganggapnya sebagai hadits yang marfu’.

---masih dalam proses penulisan---
Dirangkum oleh :
Sholihin untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat
 

Sabtu, 03 Maret 2012

Tafsir Q.S. Al-Baqarah 28

Kajian Tafsir Ibnu Katsir, 28 Feb 2012
Pembicara : K.H. Aep Saefudin SAG
Al-Baqarah, ayat 28 :
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ باللهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْ ۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ.
"Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dihidupkan dan dimatikan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kalian dikembalikan."
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman membuktikan keberadaan dan kekuasaan-Nya, Dia Yang Maha Pencipta dan mengatur hamba-hamba-Nya. Untuk itu Allah berfirman, “Kaifa takfuruuna billaahi,” artinya ‘mengapa kalian mengingkari keberadaan Allah, atau mengapa kalian menyembah selain-Nya bersama Dia’. Kemudian disebutkan pula, “wa kuntum amwaatan faahyaakum,” artinya 'padahal kalian tadinya tidak ada, lalu Allah menciptakan kalian ke alam wujud'. Makna ayat ini sama dengan yang terkandung didalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya:
اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الخَالِقُوْنَ۝ اَمْ خَلَقُوا السَّموَاتِ وَالارْضَ ۚ بَلْ لايُوْقِنُوْنَ۝
"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan bumi dan langit itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (Q.S. Ath-Thuur : 35-36)
هَلْ أتى عَلَى الاِنْسَانِ حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ لِمْ يَكُنْ شَيْئًا مَّذْكُوْرًا۝
“Bukankah telah dating atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (Q.S. Al-Insaan : 1)
ayat-ayat yang menceritakan hal ini masih banyak.
Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘Anhu mengenai firman-Nya:
قالُوْا رَبَّنَآ اَمَتَّنَا الثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا الثْنَتَيْنِ فَعْتَرَفْنَا بذُنُوْبنَا.
Mereka menjawab, “YaTuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah mematikan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami.” (Q.S. Al-Mu’min : 11)
disebutkannya bahwa ayat inilah yang dimaksudkan dalam Q.S. Al-Baqarah : 28 tersebut.
Ibnu juraij meriwayatkan dari Atha, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa kalian tadinya mati dalam tulang sulbi ayah-ayah kalian, saat itu kalian bukan merupakan sesuatupun sebelum Allah menciptakan kalian. Setelah Allah menciptakan kalian, lalu Dia mematikan kalian sebagai suatu kepastian atas diri kalian. Kemudian Allah menghidupkan kalian dalam hari berbangkit, yaitu di saat Dia menghidupkan kalian di hari kiamat. Disebutkannya bahwa makna ayat Q.S. Al-Baqarah : 28 tersebut sama dengan ayat Q.S. Al-Mu’min : 11.

Pendapat yang lebih kuat adalah dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas, golongan tersebut terdiri atas kalangan Tabi’in. Mereka mengatakan bahwa makna ayat Q.S. Al-Baqarah : 28 tersebut dama dengan firman-Nya :
قل الله يحييكم ثم يميتكم ثم يجمعكم الى يوم القيمة لاريب فيه.
Katakanlah,“Allahlah yang menghidupkan kalian, kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya.” (Q.S. Al-Jaatsiyah : 26)
Sama juga dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengenai berhala-berhala, yaitu :
اَمْوَاتٌ غَيْرُ اَحْيَِآءٍۗ وَمَا يَشْعُرُوْنَ.
“(Berhala-berhala itu) benda mati dan tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl : 21)
Allah berfirman dalam ayat lainnya :
واية لهم الارض الميتة ۖ احيينهاواخرجنامنهاحبافمنه يأكلون.
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan.” (Q.S. Yaasin : 33)

Dirangkum oleh : Sholihin untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat