Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juli 2014

Khutbah Jum'ah 04 Juli 2014

Empat Penghancur Agama
Oleh : Ust. Agus Suryana

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ .َ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ٠ أللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَأصْحٰبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ ٳلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ٠
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ . يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا . يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛


Ringkasan Khutbah :
Syeikh Abdul Qadir Jaelani di dalam kitabnya menyebutkan bahwa ada empat hal / golongan yang menghancurkan agama, yaitu :
1.       Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya
2.       Orang yang beramal / mengerjakan amalan tanpa mengetahui ilmunya
3.       Orang yang tidak mau menuntut ilmu untuk mengetahui apa yang dia tidak ketahui
4.       Orang yang tidak menyukai orang yang mengajarkan ilmu kepadanya tentang apa yang dia tidak ketahui.


1. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya

Banyak diantara orang-orang pandai, bahkan yang biasa disebut ustadz, kyai, atau ajengan, mereka tahu tentang ilmu agama dan kewajiban menerapkan syariat, tetapi tidak ada realisasi dalam kehidupannya sehari-hari.
Padahal Allah SWT telah berfirman,

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff : 3).

Saat ini kita melihat dan menyaksikan di sekitar kita dan bahkan di antara kita banyak yang enggan melaksanakan sholat, puasa, dan zakat, padahal kita semua mengetahui bahwa sholat lima waktu, puasa, zakat itu wajib dan kita mengerti ilmunya. Kita tahu bahwa riba itu haram, namun hal itu tetap dipraktekkan dan dilegalkan oleh negara.
Semua pasti tahu dan paham betul bahwa korupsi dan suap menyuap itu dilarang, namun hal itu terus menerus terjadi terutama di kalangan pejabat birokrasi.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita semua dengan sabdanya:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الرَّاشِيْ وَالْمُرْتَشِيْ
“Semoga laknat Allah atas pemberi suap dan penerima suap” (Hadits riwayat Ibnu Majah , 2313; Shahihul Jami’, 5114.)

2. Orang yang mengerjakan amalan tanpa mengetahui ilmunya


masih dalam proses penulisan.....

Selasa, 15 Oktober 2013

Khutbah Idul Adha 1434 H

Intisari Khutbah Idul Adha di Masjid Bintang Raya
Khotib : KH. Aep Saefudin S.Ag

- Manusia harus menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya
- Merugilah orang yang tidak mengisi waktunya dengan amal shaleh

- Merugi juga orang yang tidak tahu hakekat dan tujuan hidup
- Hidup pada hakekatnya adalah perjuangan, memperjuangkan aqidah dan keyakinan yg benar, yaitu Aqidah Islam.
- Memperjuangkan Aqidah Islam bukan berarti untuk orang Islam semata, tetapi untuk semua manusia, karena Islam adalah rahmatan lil alamin.
- Perjuangan menegakkan aqidah yang hak pasti banyak rintangannya dan diperlukan pengorbanan.
- Hendaknya mencontoh kualitas pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. dimana kecintaan kepada Allah melebihi segalanya, bahkan melebihi cinta thd anak kesayangannya dan diri sendiri.
- Berkurban pada hakekatnya adalah mengorbankan harta yg dicintainya demi kecintaan kepada Allah dan mengharap keridhaan-Nya.
- Berkurban juga mengandung aspek sosial, ketulusan berbagi dengan fakir miskin dan dhu'afa.
- Daging kurban diutamakan untuk faqir miskin, bukan sebaliknya.
- Jika kaum muslimin Indonesia yg berjumlah ratusan juta mempunyai jiwa yg rela berkorban pasti akan berdampak luar biasa bagi kesejahteraan rakyat Indonesia bahkan dunia.


Semoga bermanfaat.....
(masih dalam proses editing)

Sabtu, 06 April 2013

Khutbah Jum'ah 5 April 2013

Ketika Mencintai 5 Hal & Melupakan 5 Hal
K.H. Aep Saefudin S.Ag.
Khutbah pertama :
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، الملك الحق المبين. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصدق الوعد الامين. صلاة وسلام دآءمين متلازمين عَلَى اصرف المرسلين، سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
ٲمّابعد، فياعباد الله أوصيكم وٳيّاي بتقوى الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ الله َتَعَالَى فِى القرأن الكريم، اعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم.

Alhamdulillah pada hari Jum’ah ini kita masih dipanjangkan usia, diberi kesehatan dan kita masih bisa melaksanakan sebagian dari kewajiban kita selaku mu’min yaitu melaksanakan ibadah jum’ah. Mudah-mudahan ibadah kita diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan juga dari ibadah mahdlah ini ada realisasi dalam segala aktivitas kita, sehingga segala amaliah dan aktivitas kita tidak sia-sia, tetapi bernilai ibadah dan mendapat limpahan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalawat dan salam semoga terlimpah curah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umatnya yang taat mengikuti ajarannya hatta yaumal kiamah.
Tidak lupa saya selaku khatib berwasiat, khususnya kepada khatib pribadi dan umumnya kepada seluruh ahli jum’ah yang berbahagia, marilah kita bersama-sama meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, Iman yang sempurna dan taqwa yang sebenar-benarnya, dalam arti melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Hadirin sidang jum’ah yang berbahagia,
Pada kesempatan khutbah kali ini, mari kita bersama-sama menelaah dan merenungi sabda Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam tentang suatu zaman di mana manusia terlalu mencintai 5 hal dan melupakan 5 hal :
سيأتى على امتى زمان يحبون الخمس وينسون الخمس يحبون الدنيا وينسون الآخرة يحبون الحيوة وينسون الموت يحبون القصور وينسون القبور يحبون المال وينسون الحساب يحبون الخلق وينسون الخالق
“Akan datang suatu masa pada umatku, dimana mereka mencintai 5 perkara dan lupa terhadap 5 perkara; mereka cinta dunia dan melupakan akhirat, mereka cinta hidup dan melupakan kematian, mereka cinta bangunan-bangunan mewah dan melupakan kubur, mereka cinta kepada harta dan melupakan hisab, mereka cinta kepada makhluk dan melupakan Pencipta.”
Jika kita perhatikan masa yang disabdakan nabi itu adalah masa kita sekarang ini, mengapa? Karena kelima kriteria tersebut sudah datang saat ini.
Yang pertama يحبون الدنيا وينسون الآخرة Mencintai dunia dan lupa akan akhirat. Saat ini sudah nampak betapa manusia telah melupakan akhirat yang kekal abadi, manusia sangat bersemangat dalam perkara dunia namun ketika perkara akhirat disajikan mereka berpaling, jika kita bandingkan manakah yang paling banyak menjadi bahan pembicaraan apakah perkara dunia ataukah akhirat?. Tentu kita akan menjawab perkara dunialah yang lebih dominan. Inilah kekhawatiran Rasulullah akan menimpa umatnya yaitu manusia akan ditutupi dunia, sehingga mereka tidak mampu melihat akhirat karena ditutupi oleh gemerlap dunia. Padalah Allah berfirman:
وللاخرة خير لك من الاولى
“Sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dan lebih utama dibandingkan dengan dunia.”
Hal ini bukan berarti umat Islam tidak boleh mencari dunia, bahkan diwajibkan untuk berusaha di dunia, tetapi urusan dunia ditujukan sebgai jalan untuk menuju akhirat. Kita berusaha untuk akhirat, kita bertani untuk akhirat, kita bedagang untuk akhirat, bukan sebaliknya menjadikan akhiratnya utuk kepentingan dunianya, seperti beribadah karena riya, bersedekah karena ingin tenar atau sanjungan.
Hadirin sidang jum’ah rahimakumullah,
Yang kedua يحبون الحيوة وينسون الموت cinta hidup dan lupa kematian.
Setiap kita pasti yakin bahwa kita akan mati, mungkin tidak ada suatu perkara didunia ini yang keyakinan kita melebihi datangnya kematian, namun walaupun manusia yakin dengan kedatangannya banyak orang yang melupakannya, lupa seolah-olah dia tidak akan mati walaupun ia sering melihat kematian seseorang namun sedikit yang membuatnya jadi pelajaran.

كل نفس ذآئقة الموت ۗ وإنما توفون أجوركم يوم القيمة ۖ  فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز ۗ  وما الحيوة الدنيآ إلا متع الغرور.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(Q.S. Ali Imran : 185)
Manusia sebenarnya di dunia ini tertidur pulas, ketika datang kematian akan terbangun dan sadar, sadar dari perbuatan-perbuatannya waktu didunia, di sanalah manusia menyesal karena tidurnya terlalu pulas hingga tak sempat mengumpulkan bekal dan mereka berkata, ”Ya Tuhan kembalikan kami kedunia, kami pasti akan menjadi orang yang shaleh, kami pasti akan shalat, kami pasti akan zakat,” namun permintaan dan penyesalannya tiada arti, mereka sudah mati. Oleh karena itu, mintalah dan menyesallah di dunia ini, karena ketika ajal sudah datang penyesalan tiada artinya.
Yang ketiga يحبون القصور وينسون القبور cinta kepada bangunan yang mewah namun  lupa kepada kubur.
Di saat ini, manusia berlomba-lomba membanguan rumah yang serba mewah, manusia sangat bersemangat membangun rumah di dunia ini namun lupa membangun rumahnya di akhirat, lupa membangun rumah di kuburannya, sehingga ketika mereka mati tak ada tempat yang nyaman baginya, karena mereka tidak pernah membangun rumah akhiratnya ketika di dunia, dia lupa shalat yang 5 waktu, lupa kepada kewajibannya sendiri, lupa kepada beribadah kepada Allah, padahal kesemuanya itu adalah merupakan bahan bangunan untuk mendirikan rumah yang megah di kubur, lebih-lebih di surga.
Namun sesuai janji Allah kubur itu bisa menjadi satu kebun dari kebun surga jika penghuninya orang yang taat kepada Allah, dan bisa menjadi satu lubang dari api neraka jika penghuninya adalah orang yang maksiat. Nauzubillah.....
Ma’asyirol Muslimin sidang jum’ah rahimakumullah
Yang keempat يحبون المال وينسون الحساب cinta harta dan lupa kepada hari perhitungan.
Manusia memang sangat suka dengan harta, namun jangan dengan kecintaan itu lalu membuat kita lupa bahwa harta kita itu akan dihisab kelak.  Hisab adalah penghitungan dan pertanyaan darimana kita memperoleh harta dan kemana kita belanjakan, jika pertanyaan ini bisa dijawab dengan baik dan bisa dipertanggung jawabkan dihadapan Allah maka harta itu pun akan menjadi penolong bagi kita. Namun jika harta itu didapatkan dari jalan haram dari mencuri, berjudi dan sebagainya maka harta itu akan membuat pemiliknya celaka, begitu juga jika harta itu didapatkan dari jalan yang halal namun digunakan untuk sesuatu yang dimurkai Allah maka itupun akan membuat celaka. Maka ketika kita memperoleh harta yang halal kita gunakan untuk menunaikan kewajiban kita dan mengabdi kepada Allah dengan menafkahi keluarga, membayarkan zakatnya, dan bershodaqoh maka harta itu akan menjadi penolong kita.
Yang kelima يحبون الخلق وينسون الخالق cinta makhluk dan lupa kepada Pencipta
Sungguh apa yang disabdakan Rasulallah amatlah benar, dizaman sekarang ini manusia kebanyakan hanya mencintai makhluk dan lupa kepada pencipta, manusia tidak melihat tanda-tanda kebesaran Allah karena tertutupi oleh nafsu dunia yang dihiasi dengan makhluk, sehingga tidak heran terjadi bencana dimana-mana karena dengan itulah Allah akan membuat manusia ingat kepada-Nya, karena telah terlampau lupa kepada Allah, ketika diberikan kemwahan dan kebahagiaan manusia kebanyakan melupakan Allah, hingga dalam kemewahan itu Allah menurunkan bencana supaya Dia di ingat. Disaat suatu negeri, sudah tidak ada lagi yang mengingat Allah maka akan ditegur oleh Allah supaya mereka menjadi ingat. Jika disuatu negeri juga tidak ada majlis zikir, majlis ilmu dan tak ada yang peduli dengan majlis ini maka turunlah bencana, namun karena didunia ini masih banyak majlis zikir masih banyaak orang-orang yang mengingat Allah hingga akhirnya bencana itupun di tahan oleh Allah. Oleh karena itu marilah kita meramaikan majlis majlis zikir, majlis-majlis ilmu karena Allah akan menurunkan rahmat dan cinta-Nya kepada manusia yang selalu mengingat-Nya.
Ma’asyirol muslimin sidang jum'ah yang berbahagia
Akhirnya mariah kita merenung sejenak dan meresapi kemudian kita melihat diri kita apakah kita termasuk orang yang digambarkan Nabi dalam haditsya itu.  Jika ia, mari saya mengajak diri saya peribadi dan kita semua untuk selalu bertaubat dan memperbaiki diri dengan selalu menyiapkan bekal kita untuk perjalanan kita menuju negri yang kekal, dengan selalu sabar dan istiqomah sembari selalu meminta kekuatan dan petunjuk Allah, karena Allahlah yang menggerakkan setiap anggota badaan kita, Allahlah yang menetapkan hati kita, Allahlah yang mengatur semuanya, dan jika kita mendapatkan kenikmatan dari ketaatan kita maka lihatlah siapa yang memberikan nikmat taat itu bukan melihat ketaatan itu hasil usaha kita, jika kita mendapatkan rizki maka lihatlah yang memberikan kita rizki, karena betapapun sedikitnya rizki kalau diberikan oleh yang Maha Besar akan mendapat barokah dari-Nya.
بارك الله لى ولكم فى القران العظيم ونفعنى واياكم بمافيه من الايات والذكر الحكيم اقول قولى هذا واستغفر الله العظيم لى ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انه هو الغفور الرحيم

Jumat, 31 Agustus 2012

Khutbah Jum'ah 13 Syawal 1433H

Amalan di Bulan Syawal
Khotbah pertama
الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والشَّكِّ وَالْيَقِين والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين وعلى آله وصحبه أجمعين. ٲمّابَعْد.  
فياأيها المسلمون: اِتَّقُوا اللَّهَ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. صدق الله العظيم.
Ma’asyiral muslimin jamaah Jum’at rahimakumullah,
Kini kita tengah berada di Jum'at kedua bulan Syawal 1433 H. Dua belas hari sudah Ramadhan meninggalkan kita. Tidak ada kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa dengannya, ataukah justru Allah telah memanggil kita. Kita juga tidak pernah tahu dan tidak pernah mendapat kepastian apakah ibadah-ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT atau tidak. Dua ketidakpastian inilah yang membuat sebagian salafus shalih berdoa selama enam bulan sejak Syawal hingga Rabiul Awal agar ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima, lalu dari Rabiul Awal hingga sya'ban berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan berikutnya.
Hadirin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Arti syawal adalah peningkatan. Demikianlah seharusnya. Pasca Ramadhan, diharapkan orang-orang yang beriman meraih derajat taqwa, menjadi muttaqin. Hingga mulai bulan Syawal kualitasnya meningkat. Kualitas ibadah, juga kualitas diri seseorang. Bukankah kemuliaan seseorang tergantung pada ketaqwaannya? Firman Allah SWT :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertaqwa…
(QS. Al-Hujurat : 13)
Akan tetapi, yang kita dan kita alami lihat justru sebaliknya. Syawal menjadi bulan penurunan. Penurunan ibadah, juga penurunan kualitas diri. Diantara indikatornya yang sangat jelas adalah perayaan idul Fitri dengan musik dan tarian, dibukanya kembali tempat-tempat hiburan yang sebulan sebelumnya ditutup. Kemaksiatan seperti itu justru langsung ramai sejak hari pertama bulan Syawal. Na'udzubillah! Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu. Umpatan, luapan emosional, dan kemarahan kembali "membudaya". Bukankah ini semua bertolak belakang dengan arti Syawal? Bukankah ini seperti mengotori kain putih yang tadinya telah dicuci dengan sebaik-baiknya? Jadilah ia kembali penuh noda. Jadilah ia kembali menghitam dan semakin memburam.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Fenomena itu sesungguhnya juga menunjukkan kepada kita, bahwa puasa orang yang demikian tidak berhasil. Tidak mampu mengantarkan seseorang meraih derajat taqwa, atau mendekatinya. Fenomena itu menjadi indikator yang mudah diketahui oleh siapa saja yang mau memperhatikan dengan seksama. Kita juga bisa menggunakan hadits Nabi sebagai kaidah yang seharusnya kita perhatikan, bahwa: "Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia."
Lalu bagaimana amal seorang muslim di bulan Syawal? Berangkat dari kaidah umum dari hadits Nabi tersebut, dan sekaligus sejalan dengan makna syawal, maka harus ada peningkatan di bulan ini. Dan peningkatan itu tidak lain adalah berangkat dari sikap istiqamah, menetapi agama Allah, berjalan lurus di atas ajarannya.
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud : 112)
Bentuk sikap istiqamah ini dalam amal adalah dengan mengerjakannya secara kontinyu, konsisten dan terus-menerus. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi :
إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ
Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka amal-amal yang telah kita biasakan di bulan Ramadhan, hendaknya tetap dipertahankan selama bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Shalat malam yang sebelumnya kita selalu melaksanakan tarawih, dan tilawah kita yang setiap hari, di bulan Syawal ini hendaknya tidak kita tinggalkan. Infaq dan shadaqah yang telah kita lakukan juga kita pertahankan. Demikian pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat di bulan Ramadhan, kita tidak takut lapar dan sakit karena kita bergantung pada Allah selama puasa Ramadhan. Kita tidak memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah (ma'iyatullah). Kita juga dibiasakan berlaku ikhlas dalam puasa tanpa perlu mengumumkan puasa kita pada siapapun. Nilai keimanan yang meliputi keyakinan, ma’iyatullah, keikhlasan, dan lainnya ini hendaknya tetap ada dalam bulan Syawal dan semakin meningkat. Bukan menipis tiba-tiba lalu hilang seketika!
Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah,
Memang tidak banyak amal khusus di bulan Syawal dibandingkan bulan-bulan lainnya. Akan tetapi, Allah telah memberikan kesempatan berupa satu amal khusus di bulan ini yaitu puasa Syawal. Ini juga bisa dimaknai sebagai alat dalam rangka meningkatkan ibadah dan kualitas diri kita di bulan Syawal. Dan keistimewaan puasa sunnah ini adalah, kita akan diganjar dengan pahala satu tahun jika kita mengerjakan puasa enam hari di bulan ini setelah sebulan penuh kita berpuasa Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
Tentang pelaksanaannya puasa Syawal ini, Sayyid Sabiq di dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan. Dan tidak ada keutamaan cara pertama atas cara kedua. Sedangkan menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal. Lebih utama. Jadi, tidak ada madzhab yang tidak membolehkan puasa Syawal di hari selain tanggal 2 sampai 7, selama masih di bulan Syawal. Ini artinya, bagi kita yang belum melaksanakan puasa Syawal, masih ada kesempatan mengerjakannya.
Jama'ah jum'at rahimakumullah,
Kesimpulan dari khutbah ini adalah bahwa setelah kita ditempa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka bulan Syawal adalah bulan peningkatan, sebagaimana setelah lulus ujian maka siswa sekolah akan naik kelas. Selanjutnya kita harus istiqamah mempertahankan prestasi dan kemudian meningkatkannya secara kontinyu. Jika kita istiqamah, tetap melaksanakan, melanjutkan dan merealisasikan amalan bulan Ramadhan di sebelas bulan berikutnya,  maka Allah SWT menjanjikan keistimewaan yang akan kita dapat, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَااللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَاتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushilat : 30)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah ke-dua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا
وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. والحمد لله رب العلمين.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
 

Jumat, 08 Juni 2012

Khutbah Jum'ah 1 Juni 2012

Lima Perkara Yang Mendatangkan Malapetaka
K.H. Aep Saefudin S.Ag.
Khutbah pertama :
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، الملك الحق المبين. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصدق الوعد الامين. صلاة وسلام دآءمين متلازمين عَلَى اصرف المرسلين، سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
ٲمّابعد، فياعباد الله أوصيكم وٳيّاي بتقوى الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ الله َتَعَالَى فِى القرأن الكريم، اعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم.

Alhamdulillah pada hari Jum’ah ini kita masih dipanjangkan usia, diberi kesehatan dan kita masih bisa melaksanakan sebagian dari kewajiban kita selaku mu’min yaitu melaksanakan ibadah jum’ah. Mudah-mudahan ibadah kita diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan juga dari ibadah mahdlah ini ada realisasi dalam segala aktivitas kita, sehingga segala amaliah dan aktivitas kita tidak sia-sia, tetapi bernilai ibadah dan mendapat limpahan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalawat dan salam semoga terlimpah curah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umatnya yang taat mengikuti ajarannya hatta yaumal kiamah.
Tidak lupa saya selaku khatib berwasiat, khususnya kepada khatib pribadi dan umumnya kepada seluruh ahli jum’ah yang berbahagia, marilah kita bersama-sama meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, Iman yang sempurna dan taqwa yang sebenar-benarnya, dalam arti melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Hadirin sidang jum’ah yang berbahagia,
Ada lima perkara yang mendatangkan malapetaka, yakni mendatangkan adzab dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala apabila lima perkara ini sudah terjadi di dalam kehidupan manusia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya ada lima perkara dan aku berlindung kepada Alloh swt agar kalian tidak menemuinya :
1.      Tidaklah suatu kaum mengingkari janji antara mereka dengan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Rasul-Nya, melainkan Allah akan mendatangkan musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, lalu merampas sebagian harta yang ada ditangan mereka.
2.      Dan tidaklah suatu kaum tidak berhukum dengan Kitabullah (Al-Qur’an), dan tidak memilih yang terbaik dari apa yang Allah Subhaanahu wa Ta’aala turunkan, kecuali Allah turunkan kepada mereka kesengsaraan di antara mereka.”
3.      Tidaklah muncul perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka melakukannya secara terus terang kecuali Alloh swt akan menimpakan kepada mereka wabah dan berbagai penyakit (tho’un) yang belum pernah menimpa kepada orang-orang sebelum mereka.
4.      Dan tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangannya niscaya mereka akan ditimpa dengan tandusnya tanah, paceklik sepanjang tahun serta berkuasanya penguasa-penguasa yang zhalim.
5.      Dan tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat hartanya kecuali Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menimpakan kepada mereka becana dengan tidak diturunkannya hujan dari atas langit kepada mereka, dan kalaulah bukan karena binatang ternak niscaya Allah akan menahan turunnya hujan selama-lamanya. (HR. Imam Ibnu Majah).

Yang pertama, “Tidaklah suatu kaum mengingkari janji antara mereka dengan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Rasul-Nya, melainkan Allah akan mendatangkan musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, lalu merampas sebagian harta yang ada ditangan mereka.” Apabila suatu kaum, suatu bangsa, suatu umat, atau seseorang sudah ingkar janji maka kaum, bangsa, atau umat tersebut, akan dikuasai oleh musuh-musuhnya.
Janji itu ada tiga, yaitu :
1.      Janji kepada Allah
Ikrar dua kalimat syahadat yang setiap saat dibaca, merupakan perjanjian kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala bahwa kita akan beribadah hanya kepada Allah, tunduk taat kepada segala perintah-Nya. Banyak orang yang telah mengucapkan kalimat syahadat tetapi tidak direalisasikannya. Ia telah berjanji akan mengabdi kepada Allah, kenyataannya malah ingkar kepada-Nya. Itulah ingkar janji kepada Allah, tidaklah beragama orang yang ingkar janji.
2.      Janji kepada diri sendiri
Kadang-kadang orang yang terlepas dari suatu musibah, telah berjanji akan mengerjakan amal shaleh, baik dengan melaksanakan berbuat baik kepada sesama manusia dalam bentuk shodaqoh maupun amal ibadah yang lain seperti berpuasa sunah dan lainnya, inilah yang disebut nadzar. Ketika seseorang sudah ber-nadzar maka wajib hukumnya untuk melaksanakannya.
3.      Janji kepada orang lain, janji yang berhubungan denngan masyarakat, janji pemimpin kepada rakyatnya. Banyak pemimpin negeri ini yang obral janji pada saat pemilu, akan mensejahterakan rakyatnya, akan mengutamakan kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi dan golongannya, akan tetapi janjinya tidak direalisasikan setelah terpilih. Banyak pemimpin negeri ini yang ingkar janji.
Kalau kondisinya sudah seperti ini, banyak orang, banyak kaum dan bebagai golongan bangsa ini yang ingkar janji, maka sesuai dengan sabda Rasulullah, bangsa tersebut akan dijajah oleh musuh-musuhnya. Realitasnya sudah terjadi terhadap bangsa ini, baik ekonominya, budayanya dan hampir semua aspek kehidupannya sudah mulai dikuasai asing.

Yang ke-dua, sabda Rasul Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, Dan tidaklah suatu kaum tidak berhukum dengan Kitabullah (Al-Qur’an), dan tidak memilih yang terbaik dari apa yang Allah Subhaanahu wa Ta’aala turunkan, kecuali Allah turunkan kepada mereka kesengsaraan di antara mereka.”  Hukum Allah adalah hukum yang paling benar dan paling adil, maka manakala suatu kaum, suatu bangsa, suatu masyarakat tidak berhukum berdasarkan hukum Allah, akan ditimpa kesengsaraan dan kefakiran. Fakir bukan dalam hal materi, tetapi fakir jiwanya, selamanya merasa kekurangan, rakus dan tamak.

---masih dalam proses penulisan---

Sholihin untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat