Senin, 09 April 2012

Lentera Kehidupan

Seorang pria berlayar menyeberangi Selat Sunda dalam rangka mudik ke kampung halamannya. Ia mengalami mabuk laut yang parah dan mengurung diri di kamar. Hingga suatu malam ia mendengar teriakan, ”Ada orang jatuh ke laut!”
Akan tetapi, ia merasa bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan untuk memberikan pertolongan. Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri yang tengah mengalami mabuk laut tersebut, ”Setidaknya saya dapat menaruh lentera pada tingkap di sisi kapal!”
Lalu ia berusaha berdiri dan menggantungkan lenteranya. Keesokan harinya ia mendengar bagaimana orang yang berhasil diselamatkan tersebut berkata, ”Saya nyaris tenggelam di tengah gelapnya malam. Namun, pada saat yang tepat, seseorang menaruh sebuah lentera pada tingkap di sisi kapal. Ketika lentera itu menyinari tangan saya, seorang pelaut yang ada di sekoci penyelamat menangkap tangan saya dan menarik saya masuk ke dalam sekocinya.”

* * *
Hidup akan terasa lebih hidup dan lebih bermakna bukan karena hal-hal yang besar, melainkan dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan jiwa yang besar. Cahaya kehidupan abadi bukan tampak dari kemilau harta yang dimiliki, bukan pula dari indahnya tahta kedudukan yang dipunyai seseorang atau deretan gelar yang disandang. Cahaya kehidupan abadi  justru dimulai dari lentera kecil yang ada dalam diri yang menyala dalam ketulusan memberi pertolongan kepada orang lain dalam segala kekurangan dan kecukupannya.
Harta yang hakiki bukanlah harta yang kita miliki, harta yang hakiki adalah harta yang kita beri, harta yang kita infaqkan di jalan Ilahi. Sekecil dan sesederhana apapun yang kita berikan, bisa jadi bermanfaat besar dan sangat menentukan bagi kehidupan orang lain.


Sumber : Setengah Isi Setengah Kosong By Parlin M.
Ditulis kembali oleh : Fajar untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat
 

Baca juga artikel terkait :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan tanggapan anda di kolom komentar, terimakasih.