Jumat, 06 April 2012

Lebah di dalam Al-Qur'an

Tahukah anda, dalam drama Shakespeare, Henry IV, para pelaku berbicara tentang lebah. Digambarkan bahwa lebah adalah serdadu-serdadu yang mempunyai raja. Jadi, lebah yang berterbangan mencari madu adalah jantan dan mereka pulang ke sarang menemui raja mereka. Memang pada masa diciptakannya drama tersebut, demikianlah pemikiran manusia pada umumnya, dan memang ilmu pengetahuan untuk membedakan lebah jantan dan lebah betina pada masa itu belum ada.
Namun, tahukah anda, seribu tahun sebelum Shakespeare lahir, Al-Qur’an sudah berbicara tentang lebah. Mari kita simak Q.S. An-Nahl ayat 68-69 :

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الجِبَالِ بُيُوْتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَ. ثمَّ كُلِي مِنْ كُلّ الثمَرتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ ألوَنُهُ فِيْهِ شِفَآءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذلِكَ لأيَةً لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ.

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (Q.S. An-Nahl 68-69).

Kalau kita baca terjemahnya dalam bahasa Indonesia, nampaknya tidak ada hal spesifik tentang lebah yang disebutkan dalam ayat tersebut. Terlebih lagi terjemah di atas adalah terjemah umum tanpa keterangan detail tentang maksud ayat. Bahasa Indonesia memang sangat sederhana dan terbatas, tidak mengenal gender (feminim dan maskulin), bentuk tunggal dan jamak (singular dan plural), bentuk lampau, sekarang maupun yang akan datang (tenses). Misalnya kalimat dalam bahasa Inggris “She is a doctor” diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Dia seorang dokter”. Dalam bahasa Inggris sudah jelas yang dimaksud adalah perempuan, tetapi dalam bahasa Indonesia tidak jelas, kecuali jika diberi keterangan “Dia (perempuan) seorang dokter”.
Bahasa Arab lebih rumit dan lebih kompleks daripada bahasa inggris. Dalam bahasa inggris kalau tidak salah hanya ada 4 kata ganti orang ke-tiga, namun dalam bahasa Arab ada 14 kata ganti orang ke-tiga yang disebut fa’il isim dlomir, yang dibedakan menurut gender dan tunggal atau jamaknya. Demikian pula kata kejanya yang disebut fi’il, berubah-ubah menurut gender (mudzakar dan muannats), tunggal, dua atau jamak (mufrad, tatsniyah, atau jama'), dan menurut bentuk lampau, sekarang atau yang akan datang (fi’il madli dan fi’il mudlori’). Dengan demikian satu kata dalam bahasa Arab bisa mengandung banyak makna sesuai dengan konteks kalimatnya.
Kembali mengenai Q.S. An-Nahl ayat 68-69 tersebut di atas, jika kita baca bahasa Arabnya maka kita akan tahu bahwa kata ganti (isim dlomir) dan kata kerja (fi’il) pada ayat tersebut menggunakan bentuk feminim (muannats), jadi yang dimaksud adalah perempuan, dalam konteks lebah berarti lebah betina. Kata-kata : anittakhidzii, tsumma kulii, faslukii tsubula rabbiki, adalah kata-kata bentuk feminim (muannats).
Jadi manakah yang benar, pemikiran pada masa Shakespeare atau Al-Qur’an yang sudah mengungkapkannya seribu tahun sebelum Shakespeare lahir?
Untuk bisa membedakan lebah jantan dari lebah betina, para ahli membutuhkan waktu 300 tahun. Di zaman Shakespeare (sekitar abad ke-17), fakta ini belum ditemukan. Para ahli belakangan menemukan bahwa lebah yang berterbangan adalah betina. Mereka kembali ke sarang menemui ratunya! Padahal A-Qur’an sudah mengenalkannya 14 abad yang lalu.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang pandai, tetapi tentu beliau belum mengetahui tentang fakta ilmiah lebah, karena pada masa Al-Qur’an diturunkan (sekitar abad ke-7) ilmu pengetahuan belum bisa mengungkapkannya, belum ada teknologi untuk hal tersebut. Jadi Al-Qur’an yang disampaikan oleh beliau kepada umatnya, yang salah satunya memuat kebenaran fakta ilmiah tentang lebah, pasti bukan karangan beliau, tetapi wahyu dari Yang Menciptakan lebah, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Wallaahu a’lam.


Ditulis oleh :
Sholihin dari berbagai sumber
Untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat

Baca juga artikel terkait :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan tanggapan anda di kolom komentar, terimakasih.