Rabu, 16 Juli 2014

Disalib dan Disiksa, Tuhan Seperti Tak Punya Kuasa! Akhirnya Mantan Direktur Nato Masuk Islam.

Namanya Wilfried Hoffman. Ia dilahirkan dalam keluarga Katholik Jerman pada 3 Juli 1931. Hoffman meraih gelar Doktor di bidang ilmu hukum dan yurisprodensi dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957. Pada tahun 1983-1987, ia ditunjuk menjadi direktur informasi NATO di Brussels.
Jerman sangat mengenal Hoffman, karena setelah bertugas di NATO, ia diangkat menjadi diplomat (duta besar) Jerman untuk Aljazair tahun 1987 dan dubes di Maroko tahun 1990-1994. Karenanya, Jerman menjadi gempar seketika saat Hoffman menerbitkan buku yang berjudul Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif). Jerman terkejut, ternyata salah satu putra terbaiknya telah memeluk Islam.

Hoffman sebenarnya telah masuk Islam sejak lama, jauh sebelum bukunya dipublikasikan pada 1992. Ia masuk Islam bahkan sebelum bertugas ke Aljazair dan Maroko. Bagaimana ia mendapatkan hidayah?

Saat itu, Hoffman sangat prihatin pada dunia barat yang mulai kehilangan moral. Agama yang dulu dianutnya dirasakannya tak mampu mengobati rasa kekecewaan dan keprihatinannya akan kondisi tersebut.
Hoffman juga memiliki sejumlah pertanyaan teologi yang belum terjawab, terutama mengenai dosa warisan. Ia juga tidak puas dengan jawaban mengapa tuhan memiliki anak dan harus pasrah disiksa hingga mati di kayu salib.
“Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak punya kuasa,” tegasnya.
Hoffman bahkan sempat “meragukan” keberadaan Tuhan. Ia lalu melakukan analisa terhadap karya-karya filsuf seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, hingga akhirnya ia dengan yakin menemukan bahwa Tuhan itu ada.

Jika Tuhan itu ada, bagaimana manusia berkomunikasi dengan-Nya? Hoffman menemukan, jawabannya adalah wahyu. Maka ia pun membandingkan berbagai “wahyu” yang ada. Setelah membandingkan kitab suci Yahudi, Kristen dan Islam itulah Hoffman mendapati Islam-lah yang secara tegas menolak dosa warisan. Ia juga mendapati, dalam Islam seseorang langsung berdoa kepada Allah, bukan melalui perantara atau tuhan-tuhan lainnya.
“Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hierarki keagamaan; ketika berdoa, ia tidak berdoa melalui Yesus, Maria, atau orang-orang suci, tetapi langsung kepada Allah,” kata Hoffman.
Tauhid yang murni di dalam Islam itulah yang akhirnya membuat Hoffman memeluk Islam. Keyakinannya semakin kuat ketika ia bertugas di Aljazair dan melihat betapa umat Islam Aljazair begitu sabar, kuat dan tabah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari umat lain. Sangat bertolak belakang dengan kepribadian masyarakat Barat yang rapuh.

"Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair dalam menghadapi penderitaan ekstrem, mereka sangat disiplin dan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, rasa percaya diri mereka sangat tinggi akan kemenangan yang akan diraih. Saya sangat salut dan bangga dengan sikap mereka," ujarnya.

Ketika keislamannya diketahui publik pasca terbitnya buku Der Islam als Alternative, media massa dan masyarakat Jerman serentak mencerca dan menggugat Hoffman. Media massa sebesar Del Spigel pun turut mencercanya. Bahkan pada kesempatan berbeda, televisi Jerman men-shooting Hoffman saat ia sedang melaksanakan shalat di atas Sajadahnya, di kantor Duta Besar Jerman di Maroko, sambil dikomentari oleh sang reporter: "Apakah logis jika Jerman berubah menjadi Negara Islam yang tunduk terhadap hukum Tuhan?"
Hoffman tersenyum mendengar komentar sang reporter. "Jika aku telah berhasil mengemukakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah suatu realitas yang pedih." Artinya, lelaki yang menambah namanya dengan “Murad” (yang dicari) ini, paham bahwa keislamannya akan membuat warga Jerman marah. Namun ia sadar, segela sesuatu harus ia hadapi apapun resikonya. Bagi Murad Wilfried Hoffman, demikian nama lengkapnya setelah menjadi Muslim, Islam adalah agama yang rasional dan maju.

Seiring waktu, masyarakat Jerman mulai “menerima” keislaman Hoffman. Sebagian mereka juga turut membaca karya-karya mualaf yang komitmen mendakwahkan Islam ini. Buku berikutnya yang ditulis Hoffman berjudul Trend Islam 2000. Selain menulis, Hoffman juga aktif dalam organisasi keislaman, seperti OKI. Ia terus menyampaikan pemikiran-pemikiran briliannya untuk kemajuan Islam.
Pada September 2009 lalu, Hoffman dinobatkan sebagai Muslim Personality of The Year (Muslim Berkepribadian Tahun Ini), yang diselenggarakan oleh Dubai International Holy Quran Award (DIHQA). Penghargaan serupa pernah diberikan pada Syeikh Dr Yusuf al-Qardhawi.

Sumber : bersamadakwah
 

Minggu, 13 Juli 2014

Kultum Tarawih 10 Juli 2014

Pertanyaan Imam Al-Ghazali Kepada Muridnya

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رب العلمين، وبه نستعين على عمور الدنيا والدين. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي بعده. اللهم صل على سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
ٲمّابعد، فيَاأَيُّهاَ الحضرون، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Hadirin jamaah Masjid Bintang Raya rahimakumullah,
Suatu ketika Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi, yang lebih kita kenal dengan nama Imam Ghazali, mengajukan beberapa pertanyaan kepada muridnya-muridnya yang insya Allah pertayaan ini bermanfaat untuk kita jadikan pelajaran. Berikut pertanyaan Imam Al-Gazali :
1.  Apakah yang paling ringan di dunia ini ?
Ada yang menjawab “Kapas, angin, debu, dan dedaunan”.
Semua itu benar kata Imam Ghazali, tapi yang paling ringan di dunia adalah “Meninggalkan Sholat”.
Kita perhatikan realita saat ini, semakin sibuk seseorang dengan aktivitasnya masing-masing namun kadang melalaikan sholat, yang merupakan kewajiban setiap muslim dan termasuk rukun islam. Sering kita disibukkan dengan pekerjaan sehari-hari di kantor, disibukkan dengan harta dan anak-anak kita di rumah, sampai-sampai lupa sholat. Adik-adik juga ketika asyik dengan permainannya kadang-kadang terlewat waktu sholat dan meninggalkannya. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa bermohon kepada Allah agar menjadi ahli sholat, yang senantiasa mengingat Allah dalam sholat dan tidak pernah meninggalkannya, karena bagi seorang mukmin yang patuh pada Robnya, sesibuk apapun dia tidak akan meninggalkan sholat, tidak akan lalai dari mengingat Allah SWT.
Allah telah mengingatkan hal ini dalam kitabnya yang suci,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun : 9).

Hadirin rahimakumullah,
2.  Pertanyaan berikutnya : Apakah yang paling berat di dunia…..?
Ada yang menjawab “Besi dan gajah’’.
Semua jawaban itu benar kata Imam Ghazali, tapi yang paling berat adalah “memegang amanah”.
Al-Quran telah menjelaskan betapa beratnya amanah itu,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab : 72)

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Sekiranya Kami turunkan Al Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berfikir.” (QS. Al-Hasyr : 21)

Hadirin rahimakumullah,
Dan diantara amanah itu adalah amanah kepemimpinan / jabatan.
Kemarin, tanggal 9 juli 2014, bangsa Indonesia telah melakukan pemilu untuk memilih Presiden. Kita lihat kedua calon presiden mengklaim telah menang dan mengucapkan terimakasih kepada rakyat Indonesia yang telah memilihnya, padahal belum bisa dipastikan siapa yang menang.
Memang saat ini amanah jabatan cenderung dianggap sebagai anugerah yang dibanggakan, bahkan diperebutkan. Hal ini berbeda dengan sikap para sahabat. Karena beratnya amanah jabatan, Abu Bakar r.a. pada saat diangkat menjadi khalifah, mengucapkan innaalillahi wainnaa ilaihi raajiuun, amanah merupakan cobaan yang amat berat. Penggantinya khalifah Umar bin Khattab, memikul gandum sendiri untuk diantarkan kepada nenek miskin yang kelaparan karena beliau tahu beratnya amanah sebagai pemimpin negara dan umat islam, akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat detail terhadap kepemimpinannya.
Berbeda sekali dengan zaman kita sekarang, dimana jabatan diperebutkan dan dibangga-banggakan. Namun, bagaimanapun juga marilah kita mendoakan agar siapapun yang terpilih sebagai presiden nanti dapat menjadi pemimpin yang shaleh, yang mampu menjaga amanah kepemimpinannya, dan bisa membawa bangsa Indonesia menuju ketaqwaan kepada Allah SWT.

Bapak, Ibu, dan adik-adik yang dirahmati Allah,
Sebenarnya ada enam pertanyaan Imam Ghazali, namun karena sudah lebih dari tujuh menit maka saya cukupkan sekian kultum malam ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya dan mohon maaf atas segala kekurangan...

Sholihin, Masjid Bintang Raya...
 

Senin, 07 Juli 2014

Khutbah Jum'ah 04 Juli 2014

Empat Penghancur Agama
Oleh : Ust. Agus Suryana

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ .َ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ٠ أللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَأصْحٰبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ ٳلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ٠
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ . يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا . يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛


Ringkasan Khutbah :
Syeikh Abdul Qadir Jaelani di dalam kitabnya menyebutkan bahwa ada empat hal / golongan yang menghancurkan agama, yaitu :
1.       Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya
2.       Orang yang beramal / mengerjakan amalan tanpa mengetahui ilmunya
3.       Orang yang tidak mau menuntut ilmu untuk mengetahui apa yang dia tidak ketahui
4.       Orang yang tidak menyukai orang yang mengajarkan ilmu kepadanya tentang apa yang dia tidak ketahui.


1. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya

Banyak diantara orang-orang pandai, bahkan yang biasa disebut ustadz, kyai, atau ajengan, mereka tahu tentang ilmu agama dan kewajiban menerapkan syariat, tetapi tidak ada realisasi dalam kehidupannya sehari-hari.
Padahal Allah SWT telah berfirman,

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff : 3).

Saat ini kita melihat dan menyaksikan di sekitar kita dan bahkan di antara kita banyak yang enggan melaksanakan sholat, puasa, dan zakat, padahal kita semua mengetahui bahwa sholat lima waktu, puasa, zakat itu wajib dan kita mengerti ilmunya. Kita tahu bahwa riba itu haram, namun hal itu tetap dipraktekkan dan dilegalkan oleh negara.
Semua pasti tahu dan paham betul bahwa korupsi dan suap menyuap itu dilarang, namun hal itu terus menerus terjadi terutama di kalangan pejabat birokrasi.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita semua dengan sabdanya:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الرَّاشِيْ وَالْمُرْتَشِيْ
Semoga laknat Allah atas pemberi suap dan penerima suap (Hadits riwayat Ibnu Majah , 2313; Shahihul Jami’, 5114.)

2. Orang yang mengerjakan amalan tanpa mengetahui ilmunya


masih dalam proses penulisan.....