Senin, 07 Juli 2014

Khutbah Jum'ah 04 Juli 2014

Empat Penghancur Agama
Oleh : Ust. Agus Suryana

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ .َ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ٠ أللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَأصْحٰبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ ٳلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ٠
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ . يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا . يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛


Ringkasan Khutbah :
Syeikh Abdul Qadir Jaelani di dalam kitabnya menyebutkan bahwa ada empat hal / golongan yang menghancurkan agama, yaitu :
1.       Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya
2.       Orang yang beramal / mengerjakan amalan tanpa mengetahui ilmunya
3.       Orang yang tidak mau menuntut ilmu untuk mengetahui apa yang dia tidak ketahui
4.       Orang yang tidak menyukai orang yang mengajarkan ilmu kepadanya tentang apa yang dia tidak ketahui.


1. Orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya

Banyak diantara orang-orang pandai, bahkan yang biasa disebut ustadz, kyai, atau ajengan, mereka tahu tentang ilmu agama dan kewajiban menerapkan syariat, tetapi tidak ada realisasi dalam kehidupannya sehari-hari.
Padahal Allah SWT telah berfirman,

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff : 3).

Saat ini kita melihat dan menyaksikan di sekitar kita dan bahkan di antara kita banyak yang enggan melaksanakan sholat, puasa, dan zakat, padahal kita semua mengetahui bahwa sholat lima waktu, puasa, zakat itu wajib dan kita mengerti ilmunya. Kita tahu bahwa riba itu haram, namun hal itu tetap dipraktekkan dan dilegalkan oleh negara.
Semua pasti tahu dan paham betul bahwa korupsi dan suap menyuap itu dilarang, namun hal itu terus menerus terjadi terutama di kalangan pejabat birokrasi.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita semua dengan sabdanya:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الرَّاشِيْ وَالْمُرْتَشِيْ
Semoga laknat Allah atas pemberi suap dan penerima suap (Hadits riwayat Ibnu Majah , 2313; Shahihul Jami’, 5114.)

2. Orang yang mengerjakan amalan tanpa mengetahui ilmunya


masih dalam proses penulisan.....

Kamis, 03 Juli 2014

Jokowi di Bintang Raya

Ini bukanlah kampanye, karena memang Yayasan Bakti Bintang Raya, Masjid Bintang Raya dan semua yang tercakup di dalamnya, benar-benar tidak terafiliasi ke dalam partai apapun dan tidak memihak capres manapun. Tulisan ini hanya merupakan cerita kejadian spontan yang terjadi malam ini di Masjid Bintang Raya, dan kesan penulis terhadap kejadian tersebut.
Selepas sholat Maghrib berjamaah di Masjid Bintang Raya, dan jamaah telah selesai baca wirid dan sholat sunnah rawatib bahkan sebagian sudah meninggalkan masjid, saat itu masuk dua mobil ke halaman masjid, sementara di jalan sana beberapa mobil (sekitar 10 mobil) berderet menepi di sebelah kiri, dikawal oleh mobil patroli polisi. Dari salah satu mobil yang masuk halaman masjid, nampak keluar beberapa orang yang salah satunya adalah pak Jokowi dan pak Maruarar Sirait.
Kejadiannya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Pak Jokowi sholat Maghrib di Masjid Bintang Raya diikuti sekitar enam orang pendukungnya, lalu menjawab sapaan beberapa orang dan melayani orang yang minta foto bareng, termasuk dengan Pengurus DKM Bintang Raya. Setelah itu kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Selesai...
Namun selanjutnya, kejadian tersebut menjadi topik pembicaraan yang hangat dan menarik diantara para jamaah. Bertemu langsung, berjabat tangan dan foto bareng dengan figur yang banyak muncul di media memang bukan hal biasa, apalagi dengan salah satu Capres di masa kampanye menjelang Pilpres, mungkin bisa dijadikan referensi untuk menentukan pilihan.
Penulis sendiri tidak begitu tertarik dengan hiruk-pikuk pagelaran Pilpres, bahkan saat ini cenderung prihatin dengan suasana kampanye yang semakin tidak sehat. Masing-masing seperti menuhankan Capres dukungannya, dibela mati-matian seolah-olah tanpa kesalahan. Sementara Capres lawan dicela habis-habisan sekan-akan tidak ada kebaikannya sedikitpun. Hal ini semakin diperkeruh oleh keberpihakan media terhadap kandidat Presiden dukungannya masing-masing, terutama dua media elektronik yang selama ini konsisten menyajikan berita secara objektif tiba-tiba berubah dengan menyajikan berita yang kadang-kadang tidak seimbang bahkan sering bertolak-belakang satu sama lain. Keprihatinan itu tetap melekat, bahkan setelah bertemu langsung dengan salah satu Capres sekalipun, karena kita memang tidak bisa menebak tabiat dan akhlak seseorang hanya dengan sekali bertemu, apalagi di masa kampanye.
Namun, dari pertemuan sekilas tersebut, ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan...
Kepribadian sederhana dan ramah dari seorang Jokowi memang terlihat saat berada di Masjid Bintang Raya, sesuai dengan yang biasa diberitakan. Turun dari mobil langsung menuju teras masjid lalu duduk untuk melepas sepatunya tanpa canggung. Begitu pula saat menyalami dan membalas sapaan beberapa orang, lalu menuju ke tempat wudlu. Semuanya terlihat dilakukan secara spontan dan tidak canggung yang menunjukkan kejujuran dan keasliannya. Kejujuran dan kesederhanaan merupakan sebagian sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
Di sisi lain, saat penulis bersalaman langsung, rasanya ada yang kurang, yaitu kurang mantap genggaman tangannya, padahal selama ini penulis mempersepsikan bahwa orang yang jujur dan tegas biasanya mantap genggaman tangannya saat bersalaman. Kemudian sebagai pemimpin, seyogyanya bisa mengajak pendukungnya yang masih banyak menunggu di beberapa mobil, untuk sama-sama melaksanakan sholat magrib karena memang waktu sholat maghrib agak sempit dan terbatas (barangkali masih banyak yang berkewajiban dan belum melaksanakannya).
Namun, catatan ini hanyalah catatan spontan tanpa kajian mendalam, hanya mengungkapkan apa yang tampak dan jelas terlihat. Untuk menilai seseorang tentu membutuhkan lebih dari itu, jadi tulisan ini bukan penilaian. Jika suatu saat yang bersangkutan berkesempatan membacanya, mudah-mudahan bisa menjadi masukan.
Secara umum, orang menganggap kejadian tersebut sebagai peristiwa kebetulan. Namun pada hakikatnya tidak ada kejadian yang kebetulan, semuanya sudah didesain secara sempurna oleh Allah SWT, dan semuanya ada hikmahnya. Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap peristiwa yang kita alami sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya.
Semoga pagelaran Pilpres 2014 ini bisa berlangsung sukses dalam kedamaian, tanpa kejadian anarkis dan keributan. Siapapun Presiden terpilih nanti, semoga bisa membawa perubahan bagi bangsa dan negara Indonesia ke arah yang lebih baik, menuju ketakwaan kepada Allah SWT, mewujudkan negara yang bersih, kuat, bermartabat, adil, makmur, sejahtera dan merata, menjadikan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur... Aamiiin.....

Sholihin,
Masjid Bintang Raya
 

Selasa, 27 Mei 2014

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Pesantren

     Alhamdulillah proyek pembangunan Gedung Pesantren atas swadaya seluruh Karyawan, Staf dan Direksi PT. Bintang Indospin Industri, di sekitar komplek Masjid Bintang Raya telah dimulai, ditandai dengan pemotongan tumpeng dan peletakan batu pertama.
     Acara yang sangat sederhara tersebut dihadiri oleh Direktur PT. Bintang Indospin Industri yaitu Bapak Eko Henry Suhartanto dan Bapak Kurniawan Elham, Ketua Yayasan Bakti Bintang Raya K.H. Aep Saefudin S.Ag, Camat kecamatan Cikancung Bapak Maksum S.Sos, Kepala KUA Cikancung Bapak Ito Tohir SH.I, Ketua MUI Cikancung K.H. Asep Saepudin, Kepala Desa Mandalasari Bapak Ahmad Fahsa, serta segenap Pengurus Yayasan Bakti Bintang Raya dan Jajaran Manajer PT. Bintang Indospin Industri.
     Acara tersebut juga dilengkapi dengan penandatanganan Ikrar Wakaf Tanah untuk Komplek Masjid seluas 1.600 M2 dari Bapak Eko Henry Suhartanto kepada Yayasan Bakti Bintang Raya.
     Semoga Pembangunan Gedung Pesantren ini berjalan lancar dan sukses, serta mendatangkan manfaat bagi sebanyak-banyaknya masyarakat, terutama bagi fakir miskin dan kaum du'afa. Yayasan Bakti Bintang Raya memprioritaskan Pesantren tersebut untuk orang-orang yang kurang mampu, sebagaimana yang telah berjalan di TK IT Bintang Raya, dan bertekad untuk berpartisipasi membangun generasi penerus bangsa yang berkualitas, berakhlak mulia, sholeh, dan kreatif.
      Terimakasih kepada Bapak Eko Henry Suhartanto atas wakaf tanahnya serta dukungan yang tak terhingga baik moril maupun materil. Terimakasih kepada seluruh Karyawan, Staf dan Direksi PT. Bintang Indospin Industri. Tak lupa pula terimakasih kami kepada Bapak Camat beserta jajarannya, Ketua MUI Cikancung beserta jajarannya, Kepala KUA Cikancung beserta jajarannya, Kepala Desa Mandalasari beserta jajarannya, serta semua pihak yang berpartisipasi dalam pembangunan Gedung Pesantren. Jazaakumullaha khairan katsira, semoga semua amal kita mendapat balasan terbaik dari Allah SWT.