Minggu, 04 Maret 2012

Ibanatul Ahkam, 28 Feb 2012

Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram
Bab : Etika Buang Hajat
Pembicara : K.H. Aep Saefudin SAG
Hadits ke -79
عَنْ أنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَدْخُلُ اَلْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْه
Dari Anas Radliyallaahu 'Anhu berkata : Pernah Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam masuk ke kakus lalu aku dan seorang anak yang sebaya denganku membawakan bejana berisi air dan sebatang tongkat kemudian beliau bersuci dengan air tersebut. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-80
عَنْ اَلْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم خُذِ اَلْإِدَاوَةَ فَانْطَلَقَ حَتَّى تَوَارَى عَنِّي فَقَضَى حَاجَتَهُ.  مُتَّفَقٌ عَلَيْه
Dari Al-Mughirah Ibnu Syu'bah Radliyallaahu 'Anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda padaku : "Ambillah bejana itu." Kemudian beliau pergi hingga aku tidak melihatnya lalu beliau menyelesaikan buang hajatnya. Muttafaq Alaihi.
Makna Hadits :
Nabi Muhammad Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam adalah seorang mursyid yang bijaksana dan murabbi yang agung. Baginda mengajarkan kita intisari akhlak. Beliau tidak pernah meninggalkan suatu kebaikan, besar maupun kecil, melainkan disampaikan kepada kita. Baginda menerangkan tentang akhlak membuang hajat yang antara lain beristinjak dengan menggunakan air. Ini karena air memiliki daya cuci yang lebih kuat. Di antaranya lagi menyediakan sesuatu untuk membersihkan najis berupa air atau batu. Etika yang lain dalam hal ini ialah dibolehkan menyuruh anak-anak membawa alat-alat yang hendak digunakan beristinja tersebut di samping disuruh menjauhi tempat keramaian ketika membuang hajat dengan memakai penutup supaya tidak kelihatan orang.
Fiqih Hadits :
1.      Keutamaan menjadi khadam kepada orang terhormat.
2.      Disunahkan menjauhi tempat keramaian ketika membuang hajat
3.    Seorang yang terhormat dibolehkan menyuruh salah seorang sahabatnya untuk membantu keperluannya.
4. Dibolehkan menggunakan bejana untuk berwudlu dan menyediakan sesuatu berupa batu atau air untuk membersihkan najis sebelum membuang air.
5. Disyariatkan beristinja menggunakan air. Air lebih utama daripada menggunakan batu ketika beristinja di mana air memiliki daya pembersih yang paling baik untuk membersihkan dan menghilangkan ‘ain najis dan bekasnya. Menurut pendapat jumhur ulama, apa yang paling baik adalah menggabungkan antara penggunaan air dan batu ketika beristinja. Dengan arti kata lain, seseorang hendaklah menggunakan batu terlebih dahulu untuk menghilangkan najis, kemudian disusuli dengan menggunakan air untuk menghilangkannya secara keseluruhan.

Pertanyaan :
1. Bagaimana hukumnya beristinja menggunakan tisu sebagaimana sekarang ini banyak dilakukan seperti di pesawat terbang, di bandara, maupun di hotel ?
Jawab :
Menurut madzhab Syafi’i hal itu boleh dilakukan karena darurat tidak tersedia air, namun setelah menjumpai air maka harus segera disempurnakan istinja’nya dengan menggunakan air.

Dirangkum oleh : Sholihin untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat

Sabtu, 03 Maret 2012

Tafsir Q.S. Al-Baqarah 28

Kajian Tafsir Ibnu Katsir, 28 Feb 2012
Pembicara : K.H. Aep Saefudin SAG
Al-Baqarah, ayat 28 :
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ باللهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْ ۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ.
"Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dihidupkan dan dimatikan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kalian dikembalikan."
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman membuktikan keberadaan dan kekuasaan-Nya, Dia Yang Maha Pencipta dan mengatur hamba-hamba-Nya. Untuk itu Allah berfirman, “Kaifa takfuruuna billaahi,” artinya ‘mengapa kalian mengingkari keberadaan Allah, atau mengapa kalian menyembah selain-Nya bersama Dia’. Kemudian disebutkan pula, “wa kuntum amwaatan faahyaakum,” artinya 'padahal kalian tadinya tidak ada, lalu Allah menciptakan kalian ke alam wujud'. Makna ayat ini sama dengan yang terkandung didalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya:
اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الخَالِقُوْنَ۝ اَمْ خَلَقُوا السَّموَاتِ وَالارْضَ ۚ بَلْ لايُوْقِنُوْنَ۝
"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan bumi dan langit itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (Q.S. Ath-Thuur : 35-36)
هَلْ أتى عَلَى الاِنْسَانِ حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ لِمْ يَكُنْ شَيْئًا مَّذْكُوْرًا۝
“Bukankah telah dating atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (Q.S. Al-Insaan : 1)
ayat-ayat yang menceritakan hal ini masih banyak.
Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘Anhu mengenai firman-Nya:
قالُوْا رَبَّنَآ اَمَتَّنَا الثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا الثْنَتَيْنِ فَعْتَرَفْنَا بذُنُوْبنَا.
Mereka menjawab, “YaTuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah mematikan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami.” (Q.S. Al-Mu’min : 11)
disebutkannya bahwa ayat inilah yang dimaksudkan dalam Q.S. Al-Baqarah : 28 tersebut.
Ibnu juraij meriwayatkan dari Atha, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa kalian tadinya mati dalam tulang sulbi ayah-ayah kalian, saat itu kalian bukan merupakan sesuatupun sebelum Allah menciptakan kalian. Setelah Allah menciptakan kalian, lalu Dia mematikan kalian sebagai suatu kepastian atas diri kalian. Kemudian Allah menghidupkan kalian dalam hari berbangkit, yaitu di saat Dia menghidupkan kalian di hari kiamat. Disebutkannya bahwa makna ayat Q.S. Al-Baqarah : 28 tersebut sama dengan ayat Q.S. Al-Mu’min : 11.

Pendapat yang lebih kuat adalah dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas, golongan tersebut terdiri atas kalangan Tabi’in. Mereka mengatakan bahwa makna ayat Q.S. Al-Baqarah : 28 tersebut dama dengan firman-Nya :
قل الله يحييكم ثم يميتكم ثم يجمعكم الى يوم القيمة لاريب فيه.
Katakanlah,“Allahlah yang menghidupkan kalian, kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya.” (Q.S. Al-Jaatsiyah : 26)
Sama juga dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengenai berhala-berhala, yaitu :
اَمْوَاتٌ غَيْرُ اَحْيَِآءٍۗ وَمَا يَشْعُرُوْنَ.
“(Berhala-berhala itu) benda mati dan tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl : 21)
Allah berfirman dalam ayat lainnya :
واية لهم الارض الميتة ۖ احيينهاواخرجنامنهاحبافمنه يأكلون.
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan.” (Q.S. Yaasin : 33)

Dirangkum oleh : Sholihin untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat

Kamis, 01 Maret 2012

Segelas Susu

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup sebagai pedagang asongan dari pintu ke pintu, biasanya dilakukan di kompleks-kompleks rumah dinas, kehabisan uang. Kondisinya saat itu sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi, dia kehilangan keberanian saat seorang ibu muda, istri seorang pejabat, membuka pintu. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air. Ibu muda tersebut melihat dan berfikir bahwa anak lelaki itu pastilah lapar.
Oleh karena itu, ia membawakan segelas besar susu. Kemudian, anak lelaki tersebut minum dengan ”lahap”-nya dan bertanya, ”Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?”
Ibu itu menjawab, ”Kamu tidak perlu membayar apapun, orang tua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan.”
Sambil menghabiskan susunya, anak lelaki tersebut berkata dalam hatinya, ”Dari hatiku yang terdalam, aku sangat simpati kepada ibu yang berbaik hati ini, dia tidak sombong sekalipun istri pejabat!”
Beberapa puluh tahun kemudian, ibu muda dahulu (yang kini sudah agak lanjut usianya) mengalami sakit yang sangat kritis. Balai pengobatan sudah tidak mampu lagi mengobati penyakit komplikasinya, apalagi saat ini ia berstatus janda seorang pensiunan kereta api. Atas saran keluarganya, si wanita ini dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pemerintah yang ada di kota untuk diobservasi. Namun, tetap saja tidak bisa diobati. Akhirnya, dengan menjual barang-barang tersisa dan atas bantuan rekan-rekan sesama janda pensiunan, si wanita muda ini dikirim ke ibukota karena di sana ada dokter yang mampu mengobati penyakit komplikasinya itu.
Dr. Sobur Nurjaman Ali dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si ibu tersebut, terbesit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Sobur. Segera ia bangkit mengenakan jubah dokternya dan bergegas turun melalui aula rumah sakit menuju kamar si wanita tersebut. Ia langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang.
Dr. Sobur kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan serangkaian medicl check up total serta terapi-terapi medis lainnnya. ”Pokoknya ibu tersebut harus sembuh,” demikian obsesinya. Mulai hari itu, si ibu yang tergolek lemah tersebut menjadi perhatian Dr. Sobur dengan kasih yang tulus. Memasuki bulan ke-tiga di rumah sakit tersebut ternyata si ibu benar-benar sembuh.
Lalu, Dr. Sobur meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya guna persetujuan. Dr. Sobur melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia sangat yakin bahwa ibu ini tidak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Bisnis yang dirintis bersama sang suami (almarhum) ketika memasuki pensiun gagal karena ditipu orang, demikian cerita si ibu kepada Dr. Sobur beberapa waktu lalu. Hal ini pula yang membuat ia jatuh miskin, dengan seorang anak yang saat ini juga masih pengangguran.
Lembar tagihan akhirnya sampai ke tangan ibu yang malang itu. Dengan rasa was-was ia memberanikan diri membaca tagihan yang disodorkan bagian keuangan. Di sana tertera rincian biaya yang dikeluarkan selama ia menjalani pengobatan. Akan tetapi, ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi : ”Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu!” Tertanda : Dr. Sobur Nurjaman Ali.

Sumber : Setengah Isi Setengah Kosong By Parlindungan M.
Ditulis kembali oleh : Fajar Shiddiq untuk Bintang Raya
Semoga bermanfaat