Jumat, 29 Maret 2013

Resensi Buku : Islam Itu Indah


Judul buku        : ISLAM ITU INDAH
                          Renungan dan Pengembaraan Rohani Guru Besar Komunikasi
Penulis              : Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D.
Tahun terbit      : 2006
Penerbit            : Khazanah Intelektual


Keindahan Islam begitu sempurna dan apa adanya. Gambaran itulah yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Penulisnya begitu lugas memaparkan kesempurnaan Islam, dengan bahasa yang mengalir, mudah dipahami dan menyentuh hati. Sebuah renungan yang sarat informasi dan pesan moral, karya ilmiah yang mudah dipahami, mengesankan dan enak dibaca.
Islam sebagai sebuah pranata sosial menawarkan sejumlah konsep yang utuh menyeluruh, serba seimbang dan setimbang, serta terbuka terhadap kritik (tidak hipokritik) yang menjadikannya siap berdialog dengan segala model dan tingkatan nalar umat manusia.
Islam menawarkan konsep rentang dan siklus hidup dunia-akhirat, konsep ilmu-amal, konsep reward system amal-pahala/siksa, konsep tanggungjawab sosial imam-ma’mum, konsep redistribusi sosial kaya-miskin, dan konsep hidup totaliter makro-mikro.
Konsep hidup-mati dan kiamat-akhirat dalam Islam begitu telanjang dan bersentuhan langsung dengan fakta-fakta kejadian pembenarnya, benar-benar bebas dari nuansa mitologis. Musibah dan bencana tsunami misalnya, menjadi pembenar mega-visual atas mega-berita dari dalam surah Al-Zalzalah. Konsep pahala-siksa, harapan-ancaman, dan ketenteraman-keputusasaan direalisasikan melalui prosesi hidup historis umat manusia dari dunia hingga akhirat (kecil) dalam sebuah episoda yang sama. Tuduhan orang-orang Musyrik bahwa Nabi Muhammad tidak lebih dari tukang sihir dan orang gila pun mentah di atas hamparan nalar manusia paling awam hingga nalar paling cerdas yang pernah ada.
Paparan naratif dari refleksi pengalaman bathin yang telah ternubuwatkan oleh kejadian nyata itu dirangkai dengan sederet pengalaman pribadi Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D., baik sebagai mahasiswa di mancanegara, sebagai ayah dan sebagai suami di dalam keluarga, sebagai aktifis pengajian di sela-sela kesibukan kesehariannya, dan sebagai guru besar Ilmu Komunikasi. Gaya tutur yang sangat naratif khas Deddy Mulyana mengajak pembaca untuk berwisata menguak pengalaman ruhani di tengah rimba Al-Qur’an yang keindahan ritme, bahasa, dan kosakatanya telah merevolusionerkan Bahasa Arab dan menginspirasi hampir semua bahasa manusia di dunia.
Suka-duka pengalaman Muslim dan Muslimah korban kebencian kesalahpahaman membingkai potret pengelaman spiritual pribadi penulisnya yang selalu hajat untuk tenggelam dalam kesadaran mengamalkan Al-Qur’an. Oleh-oleh dari perjalanannya sekeluarga ke Jerman dan London penghujung 2005 menambah lengkap potret keindahan Islam yang dipaparkan setelah dinikmatinya langsung bersama keluarganya.
Karya Prof. Deddy Mulyana ini mencerminkan kapasitas penulisnya sebagai ilmuwan, pendakwah, wartawan, dan sekaligus sastrawan, sehingga buku ini layak menjadi bacaan wajib bagi para Muslim dan Muslimah.

 

Jumat, 22 Maret 2013

Ibanatul Ahkam, Kesimpulan

Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram
Kesimpulan Bab Adzan

Hadits-hadits yang dihimpun dalam bab ini menunjukkan kepada beberapa kesimpulan berikut:
1.      Disyariatkan adzan dan iqamah setiap kali hendak mengerjakan sholat fardu. Mengumandangkan adzan dengan perlahan dan mengumandangkan iqamah dengan cepat. Melakukan tarji’ dalam adzan dan tatswib dalam adzan sholat Shubuh. Menjamak dan mengqasar sholat dalam perjalanan. Hukum adzan dan iqamah dalam sholat jamak dan qasar, masih diperselisihkan oleh ulama seperti yang disebutkan sebelum ini.
2.      Menjelaskan lafadz-lafadz adzan yang sebagian besarnya diucapkan secara berulang, sedangkan lafadz iqamah diucapkan satu kali-satu kali.
3.      Muadzdzin atau juru adzan disunatkan memiliki suara yang merdu dan kuat, dan hendaklah dia tidak menerima upah dari adzannya itu. Adzan hendaklah dilakukan di tempat yang tinggi dan muadzdzin meletakkan dua jari telunjuknya pada kedua telinganya. Menoleh ke kanan dan ke kiri ketika membaca al-haya’alatain. Disunatkan makan sahur, boleh makan dan minum hingga terbitnya fajar kedua.
4.      Menjawab orang yang adzan dengan meniru sebagian besar lafadz adzan dan mengganti jawapan al-haya’alatain dengan al-hawqalatain.
5.      Boleh melantik dua orang juru adzan untuk satu masjid; salah seorang daripadanya mengumandangkan adzan sesudah yang lain. Hal ini dilakukan dalam sholat Shubuh, yakni beberapa waktu sebelum dan sesudah masuk waktu sholat Shubuh. Orang buta boleh mengumandangkan adzan dengan beberapa syarat, boleh berpegang kepada suara, boleh menyebut cacat tubuh yang ada pada seseorang supaya dikenal, boleh menisbahkan seseorang kepada ibunya jika dia sudah dikenal dengan panggilan itu.
6.      Muadzdzin atau juru adzan adalah orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga waktu sholat dan dia bertugas memastikan waktu sholat. Sholat tidak didirikan kecuali setelah adanya isyarat imam atau dengan kedatangannya ke dalam masjid. Imam harus mempertimbangkan keadaan orang yang bermakmum di belakangnya.
7.      Sholat dianggap ada’an apabila orang yang melakukannya masih sempat mendapatkan satu rakaat yang sempurna sebelum matahari terbit dan sebelum matahari tenggelam.
8.      Dianjurkan berdoa dengan doa yang dianjurkan oleh Nabi Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam di antara adzan dan iqamah karena membaca doa pada waktu itu dimakbulkan oleh Allah.
 

Rabu, 20 Maret 2013

Dzikir Pagi & Petang

Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Hadits Shahih

 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sumber : faisalchoir blogspot.com
Download MP3 Dzikir Pagi & Petang dari Radio Rodja 756AM
Dzikir Pagi (3,6 MB)
Dzikir Petang (3,5 MB) 
Sholihin untuk Bintang Raya, semoga bermanfaat.