Selasa, 15 Oktober 2013

Khutbah Idul Adha 1434 H

Intisari Khutbah Idul Adha di Masjid Bintang Raya
Khotib : KH. Aep Saefudin S.Ag

- Manusia harus menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya
- Merugilah orang yang tidak mengisi waktunya dengan amal shaleh

- Merugi juga orang yang tidak tahu hakekat dan tujuan hidup
- Hidup pada hakekatnya adalah perjuangan, memperjuangkan aqidah dan keyakinan yg benar, yaitu Aqidah Islam.
- Memperjuangkan Aqidah Islam bukan berarti untuk orang Islam semata, tetapi untuk semua manusia, karena Islam adalah rahmatan lil alamin.
- Perjuangan menegakkan aqidah yang hak pasti banyak rintangannya dan diperlukan pengorbanan.
- Hendaknya mencontoh kualitas pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. dimana kecintaan kepada Allah melebihi segalanya, bahkan melebihi cinta thd anak kesayangannya dan diri sendiri.
- Berkurban pada hakekatnya adalah mengorbankan harta yg dicintainya demi kecintaan kepada Allah dan mengharap keridhaan-Nya.
- Berkurban juga mengandung aspek sosial, ketulusan berbagi dengan fakir miskin dan dhu'afa.
- Daging kurban diutamakan untuk faqir miskin, bukan sebaliknya.
- Jika kaum muslimin Indonesia yg berjumlah ratusan juta mempunyai jiwa yg rela berkorban pasti akan berdampak luar biasa bagi kesejahteraan rakyat Indonesia bahkan dunia.


Semoga bermanfaat.....
(masih dalam proses editing)

Kamis, 26 September 2013

Penggunaan "Subhanallah" & "MasyaAllah" Sering Terbalik

Ada 2 yang mengikatnya, tuntunan Quran-Sunnah & kebiasaan dalam Bahasa Arab.
Al Quran menuturkan: Subhanallah digunakan dalam mensucikan Allah dari hal yang tak pantas. “Maha Suci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan, dan lain-lain.” Ayat-ayat berkomposisi ini sangatlah banyak. Juga, Subhanallah digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik (QS 34: 40-41), dihinakannya Allah tersebab kita (QS 12: 108), dan lain-lain.
Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: ”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”.Malaikat-malaikatitu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.” (QS 34 Saba’: 40-41)
Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.” (QS 12 Yusuf: 108)
Bukankah ada juga pe-Maha Suci-an Allah dalam hal menakjubkan? Uniknya, Al Quran menuturnya dengan kata ganti kedua (QS 3: 191), atau kata ganti ketiga yang tak langsung menyebut asma Allah (QS 17: 1 dll). Sedangkan ia juga terpakai pada; me-Maha Suci-kan Allah dalam menyaksikan bencana & mengakui kezhaliman diri (QS 68: 29), menolak fitnah keji yang menimpa saudara (QS 24: 16).
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”" (QS 3 Ali Imran:109)
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 17 Al Israa’: 1)
Mereka mengucapkan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dzalim”.” (QS 68 Al Qalam: 29)
Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”" (QS 24 An Nuur:16)
Bagaimana dengan hadits-nya?
“Kami apabila berjalan naik membaca takbir, & apabila berjalan turun membaca tasbih.” (HR Al Bukhari, dari Jabir).
Jadi “Subhanallah” dilekatkan dalam makna “turun”, yang kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam Bahasa Arab secara umum; yakni menggunakannya untuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantas Allah SWT dilekatkan padanya. Adalah Gurunda (Moh. Fauzil Adhim) yang pernah memiliki pengalaman memuji seorang Gurunda lain nan asli Arab dengan “Subhanallah”, kemudian mendapat jawaban tak dinyana : “Astaghfirullahal‘adhim; ‘afwan Ustadz; kalau ada yang bathil dalam diri & ucapan ana; tolong segera Ant luruskan!”, kira-kira demikian.
Bagaiamana kesimpulannya? Dzikir tasbih secara umum adalah utama, sebab ia dzikir semua makhluq & tertempat di waktu utama pagi & petang. Adapun dalam ucapan sehari-hari, mari membiasakan ia sebagai pe-Maha Suci-an Allah atas hal yang memang tak pantas bagi keagunganNya.
Bagaimana dengan “MasyaAllah”? QS 18: 39 memberi contoh; ia diucapkan atas kekaguman pada aneka kebaikan melimpah; kebun, anak, harta. Sungguh ini semua terjadi atas kehendak Allah; kebun subur menghijau jelang panen; anak-anak yang ceria menggemaskan, harta yang banyak. Lengkapnya; “Masyaallah, la quwwata illa billah”, kalimat ke-2 menegaskan lagi; tiada kemampuan mewujudkan selain atas pertolongan Allah.
Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,” (QS 18 Al Kahfi: 39)
Pun demikian dalam kebiasaan lisan berbahasa Arab; mereka mengucapkan “MasyaAllah” pada keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan. Demikianlah pengalaman menghadiri acara Masyaikh; & membersamai beberapa yang  empat ke Jogokariyan; dari Saudi, Kuwait, Syam, & Yaman. Di antara mereka ada yang berkata, “MasyaaLlah” nyaris  tanpa henti, kala di Air Terjun Tawangmangu, Bonbin Gembiraloka, & Gunung Merapi.
Kesimpulannya: “MasyaAllah” adalah ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang indah; dan memang hal indah itu dicinta & dikehendaki oleh Allah. Demi ketepatan makna keagungan-Nya & menghindari kesalahfahaman; mari biasakan mengucap “Subhanallah” & ”MasyaAllah” seperti seharusnya.
Membiasakan bertutur sesuai makna pada bahasa asli insyaAllah lebih tepat & bermakna. Tercontoh : orang Indonesia bisa senyum gembira padahal sedang dimaki. Misalnya dengan kalimat; “Allahu yahdik!”. Arti harfiahnya : ”Semoga Allah memberi hidayah padamu!” Bagus bukan? Tetapi untuk diketahui; makna kiasan dari “Allahu yahdik!” adalah “Dasar gebleg!” Jadi, mari belajar tanpa henti & tak usah memaki...


Sumber : bangkitkansemangat.wordpress.com

Senin, 19 Agustus 2013

Minta Maaf Seperti Abu Bakar

Kegiatan halal-bihalal merupakan hal yang sangat umum dilakukan pasca Ramadhan. Agenda utamanya adalah ber-shilaturrahim dan saling memaafkan. Akan tetapi, apakah kita benar-benar meminta maaf secara tulus dan memaafkan dengan sebenarnya? Ataukah hanya sekedar seremoni dan formalitas.
Mari kita simak kisah dua sahabat Rasul dalam hal meminta maaf dan memaafkan.
Dikisahkan oleh Rabi’ah bin Ka’ab bin Malik Al-Aslami, bahwa ada dua bidang tanah yang bersebelahan, sebidang tanah milik Abu Bakar dan sebelahnya milik Rabi’ah. Tanah itu merupakan kebun kurma yang subur. Alkisah, terdapat satu pohon kurma yang tumbuh di perbatasan antara kedua tanah tersebut dan menjadi perselisihan antara Abu Bakar dan Rabi’ah.
Pohon ini milikku, karena berada di atas tanahku,” kata Rabi’ah.
Tidak,” kata Abu Bakar, “dia milikku karena berada di atas tanahku,
Keduanya berdebat dan tidak ada yang mau mengalah. Tanpa sengaja, Abu Bakar mengucapkan kata-kata kasar dengan suara keras. Sadar bahwa dirinya telah berlebihan, Abu Bakar menyesal kemudian meminta maaf sembari berkata, “Rabi’ah ucapkanlah kalimat serupa agar menjadi balasan yang setimpal bagiku!
Tentu Rabi’ah menolak, dia berkata, “Tidak, demi Allah, Aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali perkataan yang baik.
Abu Bakar kecewa dan meminta Rabi’ah kembali untuk mengatakan hal serupa.
Merasa tidak enak dengan ulahnya sendiri, Abu Bakar segera menemui Rasulullah SAW untuk meminta tolong dan pendapat. Mereka berduapun menghadap Rasulullah hari itu juga.
Beliau bertanya, “Wahai Rabi’ah, ada masalh apa antara engkau dan Abu Bakar?
Rabi’ah kemudian menceritakan perkara yang menimpa mereka.
Wahai Rasulullah, tadi terjadi begini dan begitu. Lalu, Abu Bakar mengatakan kepadaku sepatah kalimat yang dia sendiri tidak menyukainya. Maka, ia menyuruhku untuk mengucapkan kalimat yang sama kepadanya agar menjadi balasan yang setimpal terhadapnya. Tapi, aku tidak mau,” ungkap Rabi’ah.
Mendengar penjelasan Rabi’ah, Rasulullah SAW tersenyum dan bersabda, “ya, sudah tepat apa yang engkau lakukan. Jangan membalasnya dengan ucapan yang serupa. Tapi katakanlah, ‘semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar.’
Lalu Rabi’ah pun mengatakannya, “Semoga Allah emngampunimu, wahai Abu Bakar.
Mendengar nasehat Rasulullah SAW dan perkataan Rabi’ah, tangis Abu Bakar pecah, dia bergegas merangkul Rabi’ah dan kembali meminta maaf. (Disarikan dari Hadits Riwayat Ahmad). Uniknya, sengketa pohon kurma sama sekali sudah mereka lupakan.
Abu Bakar dan Rabi’ah merupakan pribadi yang patut kita contoh. Bagaimana tidak, seorang Abu Bakar yang begitu terkenal dengan keluhuran imannya tak segan untuk meminta maaf ketika berbuat lalim. Bahkan, dia melakukannya segera tanpa perlu menunggu momen Idul Fitri. Tak Cuma itu, Abu Bakar  malah meminta Rabi’ah untuk membalasnya dengan perlakuan yang setimpal.
Sikap yang ditunjukkan Rabi’ah pun tak kalah mulia. Dia tidak ingin membalas saudaranya dengan perkataan kasar, meskipun disuruh oleh Abu Bakar. Dia tidak ingin melukai perasaan Abu Bakar, meskipun dia sendiri telah dilukai oleh perkataan kasar.
       Nasehat yang yang diajarkan oleh Rasulullah SAW juga sama-sama mengandung budi pekerti yang luhur. Alih-alih membalas perkataan kasar yang setimpal, kita malah dianjurkan untuk mendoakan mereka. Sungguh luar biasa. Kita melihat bagaimana Islam mendidik umatnya untuk senantiasa rukun dan saling memaafkan, tidak hanya pada saat Idul Fitri saja...


Sumber : MAPI No. 7 & 8 Th. XIII by Iqbal.