Kamis, 31 Mei 2012

Tafsir Surah Al-Baqarah 35-39

Kajian Tafsir Ibnu Katsir, Mei 2012
Pemateri : K.H. Aep Saefudin SAG
 Al-Baqarah  ayat 35-36 :
وقلنا يآدم اسكن  أنت وزوجك الجنة وكلا منها زغدا حيث شئتماۖ ولاتقربا هذه الشجرة فتكون من الظلمين. فأزلهم الشيطن عنها فأخرجهما مما كان فيه ۖ وقلناالهبطوا بعضكم لبعض عدوۚ ولكم فى الارض مستقر ومتاع الى حين.
"Dan Kami berfirman “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian sukai, tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”"


Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman memberitakan kehormatan yang dianugerahkan-Nya kepada Adam, sesudah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya, lalu mereka sujud kepadanya kecuali iblis. Bahwa Dia memperbolehkan baginya surga untuk tempat tinggalnya dimanapun yang dikehendakinya. Adam boleh memakan makanan yang dia sukai dengan leluasa, yakni dengan senang hati, berlimpah, dan penuh dengan kenikmatan.
Al-Hafidz Abu Bakar Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari hadits Muhammad Ibnu Isa Ad-Damigani, telah menceritakan kepada kami Salamah Ibnu Fadl, dari Mikail, dari Lais, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Dzar yang menceritakan hadits berikut :
قلت يارسول الله ارايت ادم انبيا كان؟ قال نعم نبيا رسولا يكلمه الله قبيلا -يعني عيانا- فقال اسكن انت وزوجك الجنة.
 Aku bertanya, “Bagaimanakah menurutmu Adam, apakah ia seorang nabi? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Ya, dia seorang nabi lagi rasul, Allah berbicara dengannya secara terang-terangan, dan Allah berfirman, “Diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini.

Surga yang ditempati oleh Adam ini masih diperselisihkan, apakah surga yang di langit atau surga yang di bumi? Kebanyakan ulama berpendapat yang pertama, yakni surga yang di langit. Al-Qurtubi meriwayatkan dari golongan mu’tazilah dan Qadariyah suatu pendapat yang mengatakan bahwa surga tersebut ada di bumi. Mengenai pembahasan ini secara rinci, insya Allah akan dikemukakan dalam tafsir surat Al-A’raf.
Konteks ayat menunjukkan bahwa Siti Hawa diciptakan sebelum Adam memasuki Surga, hal ini telah dijelaskan oleh Muhammad Ibnu Ishaq dalam keterangannya : Ketika Allah telah selesai dari urusan mencaci iblis, lalu Allah kembali kepada Adam yang telah Dia ajari semua nama-nama itu. Setelah itu ditimpakan rasa kantuk kepada Adam, kemudian Allah mengambil salah satu tulang iga sebelah kirinya dan menambal tempatnya dengan daging. Lalu Allah menjadikan tulang iganya itu istrinya, yaitu Siti Hawa, berupa seorang wanita yang sempurna agar Adam merasa tenang hidup dengannya. Ketika Adam terbangun, ia melihat Siti Hawa telah berada di sampingnya. Setelah Allah menikahkannya dan menjadikan rasa tenang dan tentram dalam diri Adam, maka Allah berfirman secara langsung kepadanya:
يآدم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلامنها زغدا حيث شئتماۖ ولاتقرباهذه الشجرة فتكون من الظلمين.
"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Baqarah : 35)

Menurut pendapat lain, penciptaan Siti Hawa terjadi sesudah Adam masuk surga, seperti yang dikatakan As-Saddi dalam salah satu riwayat yang diketengahkannya dari Abu Malik dan dari Abu Shaleh, dari Ibnu ‘Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari sejumlah sahabat. Setelah Iblis diusir dari surga dan Adam ditempatkan di dalam surga, maka Adam berjalan di dalam surga dengan perasaan kesepian karena tiada teman hidup yang membuat dia merasa tenang dan tentram dengannya. Kemudian Adam tidur sejenak. Ketika terbangun, ternyata di dekatnya terdapat seorang wanita yang sedang duduk. Allahlah yang telah menciptakannya dari tulang iga Adam. Lalu Adam bertanya, “Siapakah kamu?” Hawa menjawab, “Seorang wanita.” Adam bertanya, “Mengapa engkau diciptakan?” Hawa menjawab, “Agar kamu merasa tenang dan tentram bersamaku.” Para malaikat bertanya kepada Adam seraya menguji pengetahuan yang dicapai oleh Adam, “Siapakah namanya, hai Adam?” Adam menjawab, “Dia bernama Hawa.” Mereka bertanya lagi, “Mengapa dinamakan Hawa?” Adam menjawab, “Sesungguhnya ia dijadikan dari sesuatu yang hidup.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
يآدم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلامنها زغدا حيث شئتماۖ
"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian sukai." (QS. Al-Baqarah : 35)

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
ولاتقرباهذه الشجرة
"Dan janganlah kamu berdua dekati pohon ini." (QS. Al-Baqarah : 35)
Hal ini merupakan pilihin dari Allah dan sengaja dijadikan-Nya sebagai ujian buat Adam. Para ulama berbeda pendapat mengenai pohon ini, ada yang mengatakan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon anggur. Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah pohon gandum, ada juga yang mengatakan pohon kurma dan ada yang mengatakan pohon tin. Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ Ibnu Anas, dari Abul ‘Aliyah, bahwa pohon tersebut bila dimakan oleh seseorang, maka orang yang bersangkutan akan mengalami hadats, sedangkan hadats tidak layak di dalam surga.
Abdul Razzaq mengatakan telah menceritakan kepada kami Umar Ibnu Adur Rahman Ibnu Mihran yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Wahab Ibnu Munabbih berkata, “Setelah Allah menempatkan Adam dan istrinya di dalam surga, lalu Dia melarangnya memakan buah tersebut. Buah tersebut berasal dari suatu pohon yang ranting-rantingnya lebat sekali sehingga sebagian darinya bersatu dengan yang lain. Buah tersebut dimakan oleh para malaikat karena mereka ditakdirkan kekal. Pohon inilah yang dilarang Allah dimakan oleh Adam dan istrinya.”
Berbagai pendapat di atas merupakan tafsir dari pohon tersebut. Imam Al-Allamah Abu Ja’far Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang benar dalam hal ini ialah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah melarang Adam dan istrinya untuk memakan buah dari suatu pohon di dalam surga, tetapi bukan seluruh pohon surga, dan ternyata Adam dan istrinya memakan buah yang terlarang baginya itu. Kami tidak mengetahui jenis pohon apa yang terlarang bagi Adam itu secara spesifik, karena Allah tidak memberikan satu dalilpun bagi hamba-hamba-Nya yang menunjukkan hal tersebut, baik di dalam Al-Qur’an maupun di dalm sunnah yang shahih. Ada yang mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon gandum, pendapat yang lain mengatakan pohon anggur, dan pendapat yang lainnya lagi mengatakan pohon tin. Memang, mungkin saja salah satu diantaranya ada yang benar, tetapi hal ini merupakan suatu ilmu yang tidak membawa manfaat bagi orang yang mengetahuinya, dan jika tidak mengetahuinya tidak membawa mudarat.” Hal yang sama dikuatkan pula olah Ar-Razi di dalam kitab tafsirnya dan kitab-kitab lainnya, yakni pendapat yang memisterikan nama pohon yang terlarang tersebut, dan inilah pendapat yang benar.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فأزلهم الشيطن عنها.

"Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu." (QS. Al-Baqarah : 36)

Dapat diinterpretasikan bahwa dlamir yang terdapat di dalam firman-Nya, “Anhaa,” kembali ke surga. Atas dasr i’rab ini berarti makna ayat ialah lalu keduanya dijauhkan oleh setan dari surga, demikianlah menurut bacaan Atsim (yakni Fa-azallahumaa). Dapat pula diartikan bahwa dlamir tersebut kembali kepada madzkur yang paling dekat dengannya, yaitu asy-syajarah. Dengan demikian berarti makna ayat seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah ialah “maka setan menggelincirkan keduanya disebabkan pohon tersebut.” Pengertiannya sama dengan makna firman-Nya :

يؤفك عنه من أفكۗ.
"Dipalingkan darinya (rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan." (QS. Adz-Dzariyaat : 39)
Karena itu dalam ayat selanjutnya Allah berfirman :
فأخرجهما مما كان فيه ۖ .
"Dan dikeluarkan dari keadaan semula," (QS. Al-Baqarah : 36)
Yakni semua kenikmatan, seperti pakaian, tempat tinggal yang luas, rezeki yang berlimpah, dan kehidupan yang enak.
وقلناالهبطوا بعضكم لبعض عدوۚ ولكم فى الارض مستقر ومتاع الى حين.
Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah : 36)
Yakni tempat tinggal, rezeki, dan ajal. Yang dimaksud dengan ilaahiin ialah waktu yang terbatas dan yang telah ditentukan, kemudian terjadilah kiamat.

Al-Baqarah  ayat 37 :
فتلقى آدم من ربه كلمت فتاب عليهۗ انه هو التواب الرحيم.
"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Menurut suatu pendapat, ayat ini merupakan tafsir dan penjelasan dari ayat lainnya, yaitu firman-Nya :
قلا ربنا ظلمنا انفسنا وان لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن من الخسرين.
Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kemi termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf : 23)
Hal ini diriwayatkan pleh Mujahid, Sa’id Ibnu Jubair, Abul Aliyah, Ar-Rabi’ Ibnu Anas, Al-Hasan, Qatadah, Muhammad Ibnu Ka’b Al-Qurazi, Khalid Ibnu Ma’dan, Ata Al-Khurasani, dan Abdur Rahman Ibnu Zaid Ibnu Aslam.
Ibnu Abu Hatim dalam bab ini telah meriwayatkan sebuah hadits, beliau berkata, telah menceritakan kepada kami Ali Ibnul Husain Ibnu Isykab, telah menceritakan kepada kami Ali Ibnu Ashim, dari Sa’id Ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ubay Ibnu Ka’b, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda :
“Adam ‘Alaihis Salam berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika aku bertobat dan kembali?Apakah Engkau akan mengembalikan diriku ke surga? Allah menjawab, “Ya.” Ang demikian  itu makna firman-Nya, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya.”
Hadits ini berpredikat gharib ditinjau dari sanad ini, di dalamnya terdapat inqita’.
Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ Ibnu Anas, dari Abul Aliyah, sehubungan dengan firman-Nya :
فتلقى آدم من ربه كلمت فتاب عليهۗ
"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya." (QS. Al-Baqarah : 37)
Disebutkan bahwa sesungguhnya setelah melakukan kesalahan, Adam berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika aku bertobat dan memperbaiki diriku?” Allah berfirman,  “Kalau begitu Aku akan memasukkan kamu ke surga.” Hal inilah yang dimaksud dengan pengertian ‘beberapa kalimat’. Termasuk ke dalam pengertian ‘beberapa kalimat’ ialah perkataan Adam yang disitir oleh firman-Nya :
ربنا ظلمنا انفسنا وان لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن من الخسرين.
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kemi termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf : 23)
Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid yang mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan ‘beberapa kalimat’ ialah seperti berikut :
اللهم لااله الا انت سبحنك وبحمدك، رب اني ظلمت نفسي فاغغفرلي انك خيرالغافرين. اللهم لااله الا انت سبحنك وبحمدك، رب اني ظلمت نفسي فارحمني انك خيرالراحمين. اللهم لااله الا انت سبحنك وبحمدك، رب اني ظلمت نفسي فتب علي انك انت التواب الرحيم.
“Ya Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau, maha suci Engkau dengan memuji kepada-Mu. Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka berilah ampun bagi diriku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi ampunan. Ya Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau, maha suci Engkau dengan memuji kepada-Mu. Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka rahmatilah diriku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi rahmat. Ya Allah, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau, maha suci Engkau dengan memuji kepada-Mu. Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :
انه هو التواب الرحيم.
"Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah : 37)
Yakni sesungguhnya Dia menerima tobat orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Makna ayat  ini sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya :
“Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya.” (QS. At-Taubah : 104)
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa : 110)
“Dan orang yan bertobat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan : 71)
Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengampuni semua dosa dan menerima tobat orang yang bertobat. Demikianlah sebagian dari kelembutan Allah kepada makhluk-Nya dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Al-Baqarah  ayat 38-39 :
قلناالهبطوا منها جميعاۚ فاما يأتينكم مني هدى فمن تبع هداي فلا خوف عليهم ولاهم يحزنون. والذين كفروا وكذبو بايتنآ اولئك اصحب النارۚ هم فيها خالدون.
"Kami berfirman, “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."


Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan tentang peringatan yang ditunjukan kepada Adam dan istrinya serta iblis, ketika mereka diturunkan dari surga. Yang dimaksud ialah anak cucunya, bahwa Allah kelak akan menurunkan kitab-kitab dan mengutus nabi-nabi serta rasul-rasul (di kalangan mereka yang akan memberi peringatan kepada kaumnya masing-masing). Demikianlah penafsiran menurut Abul Aliyah, dia mengatakan behwa petunjuk tersebut yang dimaksud adalah para nabi dan para rasul, serta penjelasan-penjelasan dan keterangan-Nya (melalui ayat-ayat-Nya).

---masih dalam proses penulisan---

Semoga bermanfaat

Baca juga artikel terkait :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sampaikan tanggapan anda di kolom komentar, terimakasih.