Jumat, 22 Maret 2013

Ibanatul Ahkam, Kesimpulan

Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram
Kesimpulan Bab Adzan

Hadits-hadits yang dihimpun dalam bab ini menunjukkan kepada beberapa kesimpulan berikut:
1.      Disyariatkan adzan dan iqamah setiap kali hendak mengerjakan sholat fardu. Mengumandangkan adzan dengan perlahan dan mengumandangkan iqamah dengan cepat. Melakukan tarji’ dalam adzan dan tatswib dalam adzan sholat Shubuh. Menjamak dan mengqasar sholat dalam perjalanan. Hukum adzan dan iqamah dalam sholat jamak dan qasar, masih diperselisihkan oleh ulama seperti yang disebutkan sebelum ini.
2.      Menjelaskan lafadz-lafadz adzan yang sebagian besarnya diucapkan secara berulang, sedangkan lafadz iqamah diucapkan satu kali-satu kali.
3.      Muadzdzin atau juru adzan disunatkan memiliki suara yang merdu dan kuat, dan hendaklah dia tidak menerima upah dari adzannya itu. Adzan hendaklah dilakukan di tempat yang tinggi dan muadzdzin meletakkan dua jari telunjuknya pada kedua telinganya. Menoleh ke kanan dan ke kiri ketika membaca al-haya’alatain. Disunatkan makan sahur, boleh makan dan minum hingga terbitnya fajar kedua.
4.      Menjawab orang yang adzan dengan meniru sebagian besar lafadz adzan dan mengganti jawapan al-haya’alatain dengan al-hawqalatain.
5.      Boleh melantik dua orang juru adzan untuk satu masjid; salah seorang daripadanya mengumandangkan adzan sesudah yang lain. Hal ini dilakukan dalam sholat Shubuh, yakni beberapa waktu sebelum dan sesudah masuk waktu sholat Shubuh. Orang buta boleh mengumandangkan adzan dengan beberapa syarat, boleh berpegang kepada suara, boleh menyebut cacat tubuh yang ada pada seseorang supaya dikenal, boleh menisbahkan seseorang kepada ibunya jika dia sudah dikenal dengan panggilan itu.
6.      Muadzdzin atau juru adzan adalah orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga waktu sholat dan dia bertugas memastikan waktu sholat. Sholat tidak didirikan kecuali setelah adanya isyarat imam atau dengan kedatangannya ke dalam masjid. Imam harus mempertimbangkan keadaan orang yang bermakmum di belakangnya.
7.      Sholat dianggap ada’an apabila orang yang melakukannya masih sempat mendapatkan satu rakaat yang sempurna sebelum matahari terbit dan sebelum matahari tenggelam.
8.      Dianjurkan berdoa dengan doa yang dianjurkan oleh Nabi Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam di antara adzan dan iqamah karena membaca doa pada waktu itu dimakbulkan oleh Allah.
 

Baca juga artikel terkait :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan tanggapan anda di kolom komentar, terimakasih.